ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN PERSALINAN NORMAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN PERSALINAN NORMAL

  1. KONSEP DASAR PERSALINAN
    1. 1. Pengertian Persalinan dan Persalinan Normal

Persalinan adalah proses untuk mendorong keluar (ekspulsi) hasil pembuahan yaitu janin, plasenta dan selaput ketuban keluar dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Farrer,1999). Persalinan normal adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm (bukan premature atau postmatur), mempunyai onset yang spontan (tidak diinduksi), selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat awitannya, mempunyai janin tunggal dengan presentase puncak kepala, terlaksana tanpa bantuan artificial, tidak mencakup komplikasi, plasenta lahir normal. Menurut Mochtar (1998), Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri), yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. Persalinan normal disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. Persalinan dimulai (inpartu) pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap.

 

 

 

  1. 2. Sebab – sebab yang Menimbulkan Persalinan (Mochtar, 1998)

Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada hanya merupakan teori – teori kompleks antara lain :

  1. Teori penurunan hormone

Terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron pada 1-2 minggu sebelum partus dimulai. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.

  1. Teori plasenta menjadi tua

Hal tersebut akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.

 

 

 

  1. Teori distensi rahim

Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenter.

  1. Teori iritasi mekanik

Di belakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus Frankerhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.

  1. Induksi partus (Induction of labour)

Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan :

  • Gagang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan dalam kanalis srvikalis dengan tujuan merangsang fleksus Frankerhauser
  • Amniotomi : pemecahan ketuban
  • Oksitosin drip : pemberian oksitosin menurut tetesan per infus

 

 

  1. 3. Tanda-Tanda Permulaan Persalinan (Rustam Mochtar, 1998)

Sebelum terjadinya persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya” atau “minggunya” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor). Ini memberikan tenda-tanda sebagai berikut :

  1. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.
  2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
  3. Perasaan sering-sering atau susah kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
  4. Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”.
  5. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bisa bercamput darah (bloody show).

 

  1. 4. Tanda –tanda Inpartu

Inpartu adalah seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan. Tanda-tanda inpartu adalah:

  1. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
  2. Keluar lender bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.
  3. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
  4. Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada.

 

  1. 5. Faktor-faktor Persalinan

Faktor-faktor yang terlibat dalam persalinan menurut Farrer (1999), adalah:

  1. Power (kekuatan yang mendorong janin keluar):
  • His (kontraksi uterus): gerakan memendek dan menebal otot-otot rahim yang terjadi untuk sementara waktu.
  • Retraksi: pemendekan otot-otot rahim yang menetap setelah terjadi kontraksi
  • Tenaga sekunder (mengejan): kontraksi otot-otot dinding perut dan diafragma serta ligmentous action terutama ligament rotundum
  1. Passages (jalan lahir): tulang panggul, serviks, vagina dan dasar panggul
  2. Passenger (janin): kepala janin, plasenta, selaput dan cairan ketuban.

 

 

 

 

 

  1. 6. Proses Persalinan

Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :

  1. Kala I

Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala satu dibagi menjadi 2 fase yaitu :

1)      Fase laten

Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap. Pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan biasanya berlangsung dibawah 8 jam.

2)      Fase aktif

Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat/ memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih. Serviks membuka dari 3 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih perjam dan terjadi penurunan bagian terbawah janin. Dapat dibedakan menjadi tiga fase :

  • Ø Akselerasi : pembukaan dari 3 cm menjadi 4 cm yang membutuhkan waktu 2 jam
  • Ø Dilatasi maksimal : pembukaan dari 4 cm menjadi 9 cm dalam waktu 2 jam
  • Ø Deselarasi : pembukaan menjadi lambat, dari 9 menjadi 10 cm dalam waktu 2 jam

Fase – fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun terjadi demikian, akan tetapi pada fase laten, fase aktif deselerasi akan terjadi lebih pendek. Mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada primigravida dan multigravida. Pada premi osteum uteri internum akan membuka lebih dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis baru kemudian osteum uteri eksternum membuka. Pada multigravida osteum uteri internum sudah sedikit terbuka. Osteum uteri internu dan eksternum serta penipisan dan pendataran terjadi dalam saat yang sama.

  1. Kala II

Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua dikenal juga sebagai kala pengeluaran. Ada beberapa tanda dan gejala kala dua persalinan :

  • Ibu merasakan keinginan meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
  • Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
  • Perineum terlihat menonjol
  • Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka
  • Peningkatan pengeluaran lender dan darah

Diagnosis kala dua persalinan dapat ditegakkan atas dasar hasil pemeriksaan dalam yang menunjukkan :

  • Pembukaan serviks telah lengkap
  • Terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina

 

 

  1. Kala III

Kala tiga persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta.

 

 

1)      Fisiologi kala tiga

Otot uterus berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba – tiba setelah lahinya bayi. Penyusutan ukuran rongga uterus ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat implantasi plasenta. Karena tempat implantasi menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan menekuk, menebal kemudian dilepaskan dari dinding uterus. Setelah lepas plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina.

 

2)      Tanda – tanda lepasnya plasenta

  • Perubahan ukuran dan bentuk uterus
  • Tali pusat memanjang
  • Semburan darah tiba – tiba

Kala III terdiri dari 2 fase :

  1. Fase pelepasan uri

Cara lepasnya uri ada beberapa cara :

  • Schultze    :lepasnya seperti kita menutup payung, cara ini paling sering terjadi. Yang lepas duluan adalah bagian tengah lalu terjadi retroplasental hematoma yang menolak uri mula-mula pada bagian tengah kemudian seluruhnya. Menurut cara ini perdarahan ini biasanya tidak ada sebelum uri lahir.
  • Duncan: lepasnya uri mulai dari pinggir, jadi pinggir uri lahir duluan. Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban. Atau serempak dari tengah dan pinggir plasenta.
  1. Fase pengeluaran uri
  • Kustner: dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada/di atas simfisis. Tali pusat diteganggangkan maka bila tali pusat masuk artinya belum lepas, bila diam atau maju artinya sudah lepas.
  • Klein: sewaktu ada his, rahim kita dorong, bila tali pusat kembali artinya belum lepas. Diam atau turun artinya lepas.
  • Strassman : tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat bergetar artinya belum lepas. Tak bergetar artinya sudah lepas.

 

 

 

 

 

  1. Kala IV

Kala empat persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir selama  2 jam. Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang dilakukan, antara lain :

  • Tingkat kesadaran ibu
  • Pemeriksaan TTV : tekanan darah, nadi, pernafasan
  • Kontraksi uterus
  • Terjadinya perdarahan

Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 400 – 500 cc

 

 

 

  1. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
    1. 1. KALA I
      1. Pengkajian
  • Anamnesa
    • Nama, umur, dan alamat
    • Gravida dan para
    • Hari pertama haid terakhir (HPHT)
    • Riwayat alergi obat
    • Riwayat kehamilan sekarang: ANC, masalah yang dialami selama kehamilan seperti perdarahan, kapan mulai kontraksi, apakah gerakan bayi masih terasa, apakah selaput ketuban sudah pecah? Jika ya, cairan warnanya apa? Kental/ encer? Kapan pecahnya? Apakah keluar darah  pervagina? Bercak atau darah segar? Kapan ibu terakhir makan dan minum? Apakah ibu kesulitan berkemih?
    • Riwayat kehamilan sebelumnya
    • Riwayat medis lainnya seperti hipertensi, pernafasan
    • Riwayat medis saat ini (sakit kepala, pusing, mual, muntah atau nyeri epigastrium)
    • Pemeriksaan fisik
      • Tunjukkan sikap ramah
      • Minta mengosongkan kandung kemih
      • Nilai keadaan umum, suasana hati, tingkat kegelisahan, warna konjungtiva, kebersihan, status gizi, dan kebutuhan cairan tubuh
      • Nilai tanda – tanda vital (TD, Nadi, suhu, dan pernafasan), untuk akurasi lakukan pemeriksaan TD dan nadi diantara dua kontraksi.
      • Pemeriksaan abdomen
        • Menentukan tinggi fundus
        • Kontraksi uterus

Palpasi jumlah kontraksi dalam 10 menit, durasi dan lamanya kontraksi

  • Memantau denyut jantung janin (normal 120-160x/menit)
  • Menentukan presentasi (bokong atau kepala)
  • Menentukan penurunan bagian terbawah janin
  • Pemeriksaan dalam
    • Nilai pembukaan dan penipisan serviks
    • Nilai penurunan bagian terbawah dan apakah sudah masuk rongga panggul
    • Jika bagian terbawah kepala, pastikan petunjuknya.

 

  1. Diagnosa keperawatan

1)      Gangguan pertukaran gas pada janin berhubungan dengan penurunan suplai 02 plasenta sekunder akibat kontraksi uterus

2)      Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus selama persalinan

3)      Kelelahan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energy akibat peningkatan metabolisme sekunder akibat nyeri selama persalinan

4)      Kurang pengetahuan tentang proses persalinan berhubungan dengan kurangnya informasi yang dimiliki ibu

5)      Cemas b.d krisis situasional akibat proses persalinan

 

  1. Perencanaan

1)      Gangguan pertukaran gas pada janin berhubungan dengan penurunan suplai 02 plasenta sekunder akibat kontraksi uterus

Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan  tidak terjadi fetal distress dengan KE : DJJ 120-160x/menit

Intervensi:

  • Kaji DJJ tiap 30 menit

Rasional: untuk mengetahui DJJ sehingga dapat dilakukan tindakan dengan segera apabila terjadi peningkatan atau perlambatan.

 

 

 

  • Sarankan ibu untuk tidak berbaring telentang lebih dari 10 menit

Rasional: jika terlentang maka berat janin, uterus, air ketuban akan menekan vena cava inferior, hal ini dapat mengakibatkan turunnya sirkulasi darah dari ibu ke plasenta

  • Catat kemajuan persalinan

Rasional: persalinan lama/disfungsional dengan perpanjangan fase laten dapat menimbulkan masalah kelelahan ibu, stres berat, infeksi dan hemoragi karena atonia/ruptur uterus

  • Catat DJJ bila ketuban pecah,  periksa lagi 5 menit kemudian dan observasi perineum terhadap prolaps tali pusat

Rasional: perubahan pada tekanan cairan amniotik dengan ruptur dan prolaps tali pusat dapat menurunkan transfer oksigen ke janin

  • Kolaborasi pemberian oksigen

Rasional:meningkatkan oksigen ibu yang tersedia untuk ambilan fetal

 

2)      Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus selama persalinan

Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan ibu mampu mengendalikan nyerinya dengan kriteria evaluasi ibu menyatakan menerima rasa nyerinya sebagai proses fisiologis persalinan

Intervensi:

  • Kaji kontraksi uterus dan ketidaknyamanan (awitan, frekuensi, durasi, intensitas, dan gambaran ketidaknyamanan)

Rasional: untuk mengetahui kemajuan persalinan dan ketidaknyamanan yang dirasakan ibu

  • Kaji tentang metode pereda nyeri yang diketahui  dan dialami

Rasional: nyeri persalinan bersifat unik dan berbeda – beda tiap individu. Respon terhadap nyeri sangat tergantung budaya, pengalaman terdahulu dan serta dukungan emosional termasuk orang yang diinginkan (Henderson, 2006)

  • Kaji faktor yang dapat menurunkan toleransi terhadap nyeri

Rasional:mengidentifikasi jalan keluar yang harus dilakukan

  • Kurangi dan hilangkan faktor yang meningkatkan nyeri

Rasional: tidak menambah nyeri klien

  • Jelaskan metode pereda nyeri yang ada seperti relaksasi, massage, pola pernafasan, pemberian posisi, obat – obatan

Rasional: memungkinkan lebih banyak alternative yang dimiliki oleh ibu, oleh karena dukungan kepada ibu untuk mengendalikan rasa nyerinya (Rajan dalam Henderson, 2006)

  • Dorong ibu untuk mencoba beberapa metode

Rasional: dengan beberapa metode diharapkan ibu dapat mengendalikan rasa nyerinya

  • Lakukan perubahan posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi ingin di tempat tidur anjurkan untuk miring ke kiri

Rasional: nyeri persalinan bersifat sangat individual sehingga posisi nyaman tiap individu akan berbeda, miring kiri dianjurkan karena memaksimalkan curah jantung ibu.

Beberapa teknik pengendalian nyeri :

  • Relaksasi

Bertujuan untuk meminimalkan aktivitas simpatis pada system otonom sehingga ibu dapat memecah siklus ketegangan-ansietas-nyeri. Tindakan dapat dilakukan dengan menghitung terbalik, bernyanyi, bercerita, sentuhan terapeutik, akupresur, hipnoterapi, imajinasi terbimbing, dan terapi music.

  • Massage

Massage yang lebih mudah diingat dan menarik perhatian adalah yang dilakukan orang lain. Tindakan massage diduga untuk menutup “gerbang” guna mencegah diterimanya stimulus nyeri, sentuhan terapeutik akan meningkatkan pengendalian nyeri (Glick, 1993). Dianjurkan massage selama persalinan bersifat terus menerus.

 

3)      Kelelahan  berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energy akibat peningkatan metabolisme sekunder akibat nyeri selama persalinan

Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan ibu tidak mengalami keletihan dengan kriteria evaluasi: nadi:60-80x/menit(saat tidak ada his), ibu menyatakan masih memiliki cukup tenaga

Intervensi:

  • Kaji tanda – tanda vital yaitu nadi dan tekanan darah

Rasional: nadi dan tekanan darah dapat menjadi indicator terhadap  status hidrasi dan energy ibu.

  • Anjurkan untuk relaksasi dan istirahat di antara kontraksi

Rasional: mengurangi bertambahnya keletihan dan menghemat energy yang dibutuhkan untuk persalinan

  • Sarankan suami atau keluarga untuk mendampingi ibu

Rasional: dukungan emosional khususnya dari orang – orang yang berarti bagi ibu dapat memberikan kekuatan dan motivasi bagi ibu

  • Sarankan keluarga untuk menawarkan dan memberikan minuman atau makanan kepada ibu

Rasional: makanan dan asupan cairan yang cukup akan memberi lebih banyak energy dan mencegah dehidrasi yang memperlambat kontraksi atau kontraksi tidak teratur.

 

4)      Kurang pengetahuan tentang proses persalinan berhubungan dengan kurangnya informasi yang dimiliki ibu

Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan selama … diharapakan ibu dapat memahami proses persalinan dengan kriteria evaluasi : ibu  menyatakan dapat menerima penjelasan perawat, ibu kooperatif

Intervensi :

  • Kaji pengetahuan yang telah dimiliki ibu serta kesiapan ibu menerima informasi

Rasional: untuk mengefektifkan penjelasan yang akan diberikan

  • Menjelaskan tentang proses persalinan serta apa yang mesti dilakukan oleh ibu

Rasional: untuk memberikan informasi kepada ibu dengan harapan terjadi perubahan tingkat pengetahuan dan psikomotor dari ibu sehingga ibu kooperatif

  • Menjelaskan tentang kemajuan persalinan, perubahan yang terjadi  serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil pemeriksaan

Rasional: memberikan gambaran pada ibu tentang persalinan yang         sedang dijalani, mengurangi cemas dengan harapan keadaan psikologis ibu tenang yang dapat mempengaruhi intensitas his

  • Memberi pujian atas sikap kooperatif ibu

Rasional: pujian dapat meningkatkan harga diri serta dapat menjadi motivasi untuk melakukannya lagi

 

5)      Cemas b.d krisis situasional akibat proses persalinan

Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan kecemasan berkurang dengan kriteria evaluasi : tampak rileks, ibu kooperatif dalam teknik relaksasi dan napas dalam, ibu melaporkan cemas berkurang, TD stabil.

Intervensi:

  • Berikan informasi tentang perubahan psikologis dan fisiologis pada persalinan sesuai kebutuhan

R/ pendidikan dapat menurunkan stres dan ansietas dan meningkatkan kemajuan persalinan

  • Kaji tingkat dan penyebab ansietas, kesiapan untuk melahirkan anak, latar belakang budaya dan peran orang terdekat

R/ memberikan informasi dasar, ansietas memperberat persepsi nyeri, mempengaruhi penggunaan teknik koping dan menstimulasi pelepasan aldosteron yang dapat meningkatkan resospsi natrium dan air

 

  • Pantau TTV sesuai indikasi

R/ stres mengaktifkan sistem adrenokortikal hipofisis-hipotalamik, yang meningkatkan retensi dan resorpsi natrium dan air dan meningkatkan eksresi kalium. Resorpsi natrium dan air dapat memperberat perkembangan toksemia intapartal/hipertensi, kehilangan kalium dapat memperberat penurunan aktivitas miometrik.

  • Pantau pola kontraksi uterus, laporkan disfungsi persalinan

R/ pola kontraksi hipertonik atau hipotonik dapat terjadi bila stres menetap dan memperpanjang pelepasan katekolamin

  • Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan, masalah dan rasa takut

R/ stres, rasa takut dan ansietas mempunyai efek yang dalam pada proses persalinan, sering memperlama fase pertama  karena penggunaan cadangan glukosa ; menyebabkan kelebihan epinefrin yang dilepaskan dari stimulasi adrenal, yang menghambat aktivitas miometrial ; dan meningkatkan kadar norepinefrin yang cendrung meningkatkan aktivitas uterus.

  • Demonstrasikan metode persalinan dan relaksasi, berikan tindakan kenyamanan

R/ menurunkan stresor yang dapat memperberat ansietas; memberikan strategi koping

 

  1. Implementasi

Sesuai dengan rencana intervensi

  1. Evaluasi

Sesuai dengan respon masing-masing klien terhadap intervensi keperawatan yang diberikan dihubungkan dengan tujuan intervensi dan kriteria evaluasi.

 

WOC kala I terlampir

 

  1. 2. KALA II
  2. Pengkajian

1)      Aktivitas /istirahat

  • adanya kelelahan, ketidak mampuan melakukan dorongan  sendiri/ relaksasi.
  • Letargi.
  • Lingkaran hitam di bawah mata.

2)      Sirkulasi: tekanan darah dapat meningkat 5-10mmHg diantara kontraksi.

3)      Integritas Ego

  • Respon  emosional dapat meningkat.
  • Dapat merasa kehilangan control atau kebalikannya seperti saat ini klien terlibat mengejan secara aktif.

4)      Eleminasi.

  • Keinginan untuk defikasi, disertai tekanan intra abdominal dan tekanan uterus.
  • Dapat mengalami rabas fekal saat mengejan.
  • Distensi kandung kemih mungkin ada , dengan urine dikeluarkan selama upaya mendorong.

5)      Nyeri/ Ketidak nyamanan

  • Dapat merintih/ meringis selama kontraksi.
  • Amnesia diantara kontraksi mungkin terlihat.
  • Melaporkan rasa terbakar/ meregang dari perineum.
  • Kaki dapat gemetar selama upaya mendorong.
  • Kontraksi uterus kuat terjadi  1,5 – 2 mnt masing-masing dan berakhir  60-90 dtk.
  • Dapat melawan kontraksi , khususnya bila tidak berpartisipasi dalam kelas kelahiran anak.

6)      Pernafasan: peningkatan frekuensi pernafasan.

 

7)      Keamanan

  • Diaforesis  sering terjadi.
  • Bradikardi janin dapat terjadi selama kontraksi

8)      Sexualitas

  • Servik dilatasi penuh( 10 cm) dan penonjolan 100%.
  • Peningkatan penampakan perdarahan vagina.
  • Penonjolan rectal/ perineal dengan turunnya janin.
  • Membrane mungkin rupture pada saat ini bila masih utuh.
  • Peningkatan pengeluaran cairan amnion selama kontraksi.
  • Crowning  terjadi, kaput tampak tepat sebelum kelahiran pada presentasi  vertex

b. Diagnosa Keperawatan

1)         Nyeri akut berhubungan dengan tekanan mekanik pada bagian presentasi , dilatasi/ peregangan  jaringan , kompresi saraf, pola kontraksi semakin intense

2)         Perubahan curah jantung berhubungan dengan fluktuasi pada aliran balik vena, perubahan pada tahanan vaskuler sistemik.

3)         Risiko terhadap kerusakan integritas  kulit / jaringan b/d pencetusan persalinan, pola kotraksi hipertonik, janin besar.

4)         Resiko terhadap kerusakan pertukaran gas pada janin berhubungan dengan kompresi mekanis kepala/tali pusat, penurunan perfusi plasenta, persalinan yang lama, hiperventilasi maternal.

5)         Resiko terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan aktif, penurunan masukan , perpindahan cairan.

6)         Resiko infeksi maternal b/d prosedur invasive berulang, trauma jaringan, pemajanan terhadap pathogen, persalinan lama atau pecah ketuban

c. Perencanaan

1). Nyeri b/d tekanan mekanik pada presentasi, dilatasi/ peregangan jaringan,

kompresi saraf, pola kontraksi semakin intensif

Tujuan : Setelah diberikan askep selama … diharapkan klien dapat

mengontrol rasa nyeri dengan criteria evaluasi :

–   Mengungkapkan penurunan nyeri

–   Menggunakan tehnik yang tepat untuk mempertahan kan control.nyeri.

–   Istirahat diantara kontraksi

Intervensi :

Mandiri :

  • Identifikasi derajat ketidak nyamanan dan sumbernya.

R/ Mengklarifikasi kebutuhan memungkinkan intervensi yang tepat.

  • Beri tindakan kenyamanan seperti : perawatan mulut, perawatan / masase perineal, linen yang bersih dan kering, lingkungan yang sejuk, kain yang sejuk dan lembab pada wajah dan leher ,kompres hangat pada perineum, abdomen atau punggung.

R/ Meningkatkan kenyamanan psikologis dan fisik, memungkinkan klien fokus pada persalinan, menurunkan kebutuhan analgesia dan anastesi.

  • Pantau dan catat aktivitas uterus pada setiap kontraksi.

R/ Memberikan informasi tentangkemajuan kontinu, membantu identifikasi pola kontraksi abnormal

  • Berikan dukungan dan informasi yang berhubungan dengan persalinan.

R/ Informasi tentang perkiraan kelahiran menguatkan upaya yang telah dilakukan berarti.

  • Anjurkan klien untuk mengatur upaya untuk mengejan.

R/ Upaya mengejan spontan yang tidak terus menerus menghindari efeknegatif berkenaandenganpenurunan kadar oksigen ibu dan janin.

  • Bantu ibu untuk memilih posisi optimal untuk mengejan

R/ Posisi yang tepat dengan relaksasi memudahkan kemajuan persalinan

 

 

Kolaborasi

  • Kaji pemenuhan kandung kemih, kateterisasi bila terlihat distensi.

R/ Meningkatkan kenyamanan, memudahkan turunnya janin, menurunkan resiko trauma kantung kencing.

  • Dukung dan posisikan blok sadel / anastesi spinal, local sesuai indikasi.

R/ Posisi yang tepat  menjamin penempatan yang tepat dari obat-obatan dan mencegah komplikasi.

 

2). Perubahan curah jantung berhubungan dengan fluktuasi pada aliran balik vena,

perubahan pada tahanan vaskuler sistemik.

Tujuan : Setelah diberikan askep selama… diharapkan tidak terjadi perubahan curah jantung dan perubahan tahanan vaskuler sistemik dengan criteria evaluasi

–          Tanda- tanda vital dalam batas normal

–          Djj dan variabilitas dalam batas normal.

Intervensi :

Mandiri:

  • Pantau TD dan nadi setiap 5-15 mnt, perhatikan jumlah dan konsentrasi haluaran urine, tes terhadap albuminuria.

R/ Peningkatan curah jantung 30-50% mempengaruhi kontraksi uterus

  • Anjurkan klien untuk inhalahi dan ekshalasi selama upaya mengejan menggunakan tehnik glottis terbukaan.

R/ Valsava manuver yang lama dan berulang terjadi bila pasien menahan nafas saat mendorong terhadap glottis yang tertutup.yang dapat mengganggu aliran balik vena.

  • Pantau DJJ setelah setiap kontraksi atau upaya mengejan.

R/ Mendeteksi bradikardi pada janin dan hipoksia .

  • Anjurkan klien memilih posisi persalinan yang mengoptimalkan sirkulasi.

R/ Posisi persalinan yang baik mempertahankan aliran balik vena dan mencegah hipotensi.

 

  • Pantau TD dan  nadi segara setelah pemberian anastesi sampai klien stabil.

R/ Hipotensi adalah reaksi merugikan paling umum pada blok epidural lumbal atau subaraknoid memperlambat aliran balik vena dan menurunkan curah jantung

Kolaborasi:

  • Atur infus intra vena sesuai indikasi, pantau pembrian oksitosin dan turunkan kecepatan bila perlu.

R/ Jalur IV harus tersedia pada kasus perlunya memperbaiki hipotensi atau menaikkan obat kedaruratan.

 

3). Risiko terhadap kerusakan integritas  kulit / jaringan b/d pencetusan persalinan, pola kotraksi hipertonik, janin besar.

Tujuan : setelah diberikan askep selama… diharapkan tidak terjadi kerusakan kulit/  jaringan dengan kriteria evaluasi :

–          Otot-otot perineal  rileks selama upaya mengedan

–          Bebas dari laserasi yang dapat dicegah

Intervensi :

Mandiri :

  • Bantu klien dengan posisi tepat, pernapasan, dan upaya untuk rileks.

R/ Dengan posisi yang tepat, pernafasan yang baik membantu meningkatkan peregangan bertahap dari perineal dan jaringan vagina dan mencegah terjadinya trauma atau laserasi serviks

  • Tempatkan klien pada posisi Sim lateral kiri untuk melahirkan bila nyaman.

R/ Posisi Sim lateral kiri menurunkan ketegangan perineal ,meningkatkan peregangan bertahap, dan menurunkan perlunya episiotomy

  • Bantu klien mengangkat kaki secara simultan, hindari tekanan pada poplitea,sokong telapak kaki.

R/ Menurunkan regangan otot mencegah tekanan pada betis,dan ruang poplitea yang dapat menyebabkan tromboplebitis pasca partum.

 

Kolaborasi :

  • Kaji kepenuhan kandung kencing

R/ Menurunkan terauma kandung kemih dari bagian presentasi.

  • Bantu sesuai kebutuhan dengan manufer tangan , berikan tekanan pada dagu janin melalui perineum ibu saat tekanan pengeluaran pada oksiputdengan tangan lain.

R/ Memungkinkan melahirkan lambat saat kepala bayi telah distensidi perineum 5cm sehingga menurunkan trauma pada jaringan ibu.

  • Bantu dengan episiotomy garis tengan atau mediolateral k/p.

R/ Episiotomy dapat mencegah robekan perineum pada kasus bayi besar, persalinan cepat,dan ketidak cukupan relaksasi perineal.

 

4). Risiko terhadap kerusakan pertukaran gas pada janin berhubungan dengan kompresi mekanis kepala/tali pusat, penurunan perfusi plasenta, persalinan yang lama, hiperventilasi maternal.

Tujuan : Setelah diberikan askep selama… diharapkan tidak terjadi gangguan pertukaran gas,pada janin dengan kriteria evaluasi :

–          Bebas dari variable atau deselerasi lanjut dengan DJJ dalam batas normal.

–          Pada klien mempertahankan control pola pernafasan.

–          Menggunakan posisi yang meningkatkan aliran balik vena/ sirkulasi plasenta.

Intervensi :

  • Kaji stasion janin , presentasi, dan posisi.

R/ Selama persalinan tahap II , janin palin rentan bradikardia dan hipoksia yang dihubungkan dengan stimulasi vegal selama kompresi kepala.

  • Posisikan klien pada rekumben lateral atau posisi tegak, atau miring dari sisi ke sisi sesuai indikasi.

R/ Meningkatkan perfusi plasenta, mencegah sindroma hipotensi supine , meningkatkan oksigenasi janin dan memperbaiki pola DJJ.

 

  • Hindari menempatkan klien pada posisi dorsal rekumben.

R/ Menimbulkan hipoksia dan asidosis janin, menurunkan variabilitas dan sirkulasi plasenta.

  • Kaji pola pernafasan klien

R/ Mengindentifikasi pola pernafasan yang tidak efektif yang dapat menyebabkan asidosis.

  • Kaji DJJ dengan fetoskop atau monitor janin selama atau setiap kontrasi.

R/ Deselerasi dini karena stimulasi vegal dari kompresi kepala harus kembali pada pola dasar diantara kontraksi

Kolaborasi:

  • Lakukan pemeriksaan vagina steril ,rasakan prolaps.

R/ Peninggian verteks membantu membebaskan tali pusat, yang dapat ditekan diantara bagian presentasi jalan lahir.

  • Siapkan untuk intervensi bedah bila kelahiran pervaginam atau forcep rendah tidak memungkinkan dengan segera setelah kira-kira 30 mnt dan pH janin  <7,20

R/ Cara kelahiran yang paling cepat harus diimplementasikan bila janin mengalami hipoksia atau asidosis berat.

 

5). Risiko kekurangan volume cairan b/d kehilangan aktif, penurunan masukan , perpindahan cairan.

Tujuan : Setelah diberikan askep selama…diharapkan volume cairan dapat terpenuhi dengan kriteria eveluasi  :

–          Tanda-tanda vital dalam batas normal.

–          Haluaran urine adekuat

–          Membrane mukosa lembab.

Intervensi

Mandiri :

  • Ukur masukan dan haluaran , dan berat jenis urine.

R/ Pada dehidrasi haluaran urine menurun, beratjenis urine menurun.

  • Kaji turgor kulit, dan produksi mucus.

R/ Turgor kulit yang menurun dan penurunan poduksi mucus menandakan adanya dehidrasi.

  • Pantau suhu sesuai indikasi.

R/ Peningkatan suhu dan nadi dapat menandakan dehidrasi atau infeksi.

  • Lepaskan pakaian yang berlebihan, pertahankan lingkugan sejuk, lindungi dari menggigil.

R/ Menyejukkan tubuh dari evaporasi dapat menurunkan kehilangan diaforetik.Tremor otot yang dihubungkan dengan menggigil meningkatkan suhu tubuh dan ketidaknyamanan secara umum menimbulkan perubahan pada keseimbangan cairan dan elektrolit.

Kolaborasi :

  • Berikan cairan per oral (menyesap cairan jernih atau es batu), atau secara parenteral

R/ Menggantikan kehilangan cairan.Larutan seperti RL membantu memperbaiki

 

6). Risiko infeksi maternal b/d prosedur invasive berulang, trauma jaringan, pemajanan terhadap pathogen, persalinan lama atau pecah ketuban

Tujuan : Setelah diberikan askep selama… diharapkan tidak terjadi infeksi dengan kriteria evaluasi :

–          Tidak ditemukan tanda-tanda adanya infeksi.

Intervensi :

Mandiri :

  • Lakukan perawatan parienal setiap 4 jam.

R/ Membantu meningkatkan kebersihan , mencegah terjadinya infeksi uterus asenden dan kemungkinan sepsis.ah kliendan janin rentan pada infeksi saluran asenden dan kemungkinan sepsis.

  • Catat  tanggal  dan waktu pecah ketuban.

R/ Dalam 4 jam setelah ketuban pecah akan terjadi infeksi .

  • Lakukan pemeriksaan vagina hanya bila sangat perlu, dengan menggunakan tehnik aseptik

R/ Pemeriksaan vagina berulang meningkatkan resiko infeksi endometrial.

  • Pantau suhu, nadi dan sel darah putih.

R/ Peningkatan suhu atau nadi > 100 dpm dapat menandakan infeksi.

  • Gunakan tehnik asepsis bedah pada persiapan peralatan.

R/ Menurunkan resiko kontaminasi.

Kolaborasi :

  • Berikan antibiotik sesuai indikasi

R/ Digunakan dengan kewaspadaan karena pemakaian antibiotic dapat merangsang pertumbuhan yang berlebih dari organisme  resisten

c. Implementasi

Sesuai dengan rencana intervensi

f.  Evaluasi

Sesuai dengan respon masing-masing klien terhadap intervensi keperawatan yang diberikan dihubungkan dengan tujuan intervensi dan kriteria evaluasi.

WOC kala II terlampir

  1. 3. KALA III
  2. Pengkajian

1)      Aktivitas/istirahat

Perilaku dapat direntang dari senang sampai keletihan.

2)      Sirkulasi

  • Tekanan darah meningkat saat curah jantung meningkat kemudian kembali ke tingkat normal dengan cepat.
  • Hipotensi dapat terjadi sebagai respon terhadap analgesik dan anastesi.
  • Frekuensi nadi lambat pada respon terhadap perubahan jantung.

3)      Makanan/cairan: kehilangan darah normal 200-300ml.

4)      Nyeri/ketidaknyamanan: inspeksi manual pada uterus dan jalan lahir menetukan adanya robekan atau laserasi. Perluasan episiotomi atau laserasi jalan lahir mungkin ada.

5)      Seksualitas: darah yang berwarna hitam dari vagina terjadi saat plasenta lepas dari endometrium, biasanya dalam 1-5 menit setelah melahirkan bayi. Tali pusat memanjang pada muara vagina. Uterus berubah dari discoid menjadi bentuk globular.

6)      Pemeriksaan fisik

  • Kondisi umum ibu: tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu tubuh), status mental klien.
  • Inspeksi: perdarahan aktif dan terus menerus sebelum atau sesudah melahirkan plasenta.
  • Palpasi: tinggi fundus uteri dan konsistensinya baik sebelum maupun sesudah pengeluaran plasenta.

 

  1. Diagnosa keperawatan

1)      Risiko kekurangan volume cairan b/d kurangnya masukan oral, muntah, diaforesis, peningkatan kehilangan cairan secara tidak disadari, atonia uterus, laserasi jalan lahir, tertahannya fragmen plasenta.

2)      Risiko cedera (meternal) b/d posisi selama melahirkan/pemindahan, kesulitan dengan plasenta.

3)      Perubahan proses keluarga b/d terjadinya transisi (penambahan anggota keluarga), krisis situasi (perubahan pada peran/tanggung jawab).

4)      Nyeri b/d trauma jaringan, respon fisiologis setelah melahirkan.

5)      Risiko infeksi b/d trauma jaringan, sisa plasenta yang tertahan.

 

  1. Perencanaan

1)      Risiko kekurangan volume cairan b/d kurangnya masukan oral, muntah, diaforesis, peningkatan kehilangan cairan secara tidak disadari, atonia uterus, laserasi jalan lahir, tertahannya fragmen plasenta.

Tujuan :

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan tidak terjadi kekurangan volume cairan dengan kriteria evaluasi :

–          Tanda vital dalam batas normal.

–          Kontraksi uterus baik.

–          Input dan output seimbang

Intervensi :

Mandiri

  • Ø Instruksikan klien untuk mendorong pada kontraksi. Bantu mengarahkan perhatiannya untuk mengejan.

R/ Perhatikan klien secara alami pada bayi baru lahir, selain itu keletihan dapat mempengaruhi upaya individu dan ia memerlukan bantuan dalam mengarahkan pelepasan plasenta. Mengejan membantu pelepasan dan pengeluaran, menurunkan kehilangan darah, dan meningkatkan kontraksi uterus.

  • Ø Kaji tanda vital sebelum dan setelah pemberian oksitosin.

R/ Efek samping oksitosin yang diberikan adalah hipertensi

  • Ø Palpasi uterus. Perhatikan ballooning.

R/ Menunjukkan relaksasi uterus dengan perdarahan ke dalam rongga uterus.

  • Ø Pantau tanda dan gejala kehilangan cairan berlebihan atau syok. Misal perhatikan tanda vital, perabaan kulit.

R/ Hemoragi dihubungkan dengan kehilangan cairan lebih besar dari 500 ml dapat dimanifestasikan oleh peningkatan nadi, penurunan tekanan darah, sianosis, disorientasi, peka rangsang dan penurunan kesadaran.

  • Ø Tempatkan bayi di payudara klien bila ia merencanakan untuk memberi ASI.

R/ Penghisapan merangsang pelepasan oksitosin dari hipofisi posterior, meningkatkan kontraksi miometrik dan menurukan kehilangan darah.

  • Ø Masase uterus dengan perlahan setelah pengeluaran plasenta.

R/ Miometrium berkontraksi sebagai respon terhadap rangsang taktil lembut, karenanyan menurunkan aliran lokhea dan menunjukkan bekuan darah.

 

  • Ø Catat waktu dan pelepasan plasenta, missal mekanisme Duncan VS Schulze.

R/ Pelepasan harus terjadi dalam 5 menit setelah kelahiran. Kegagalan untuk lepas memerlukan pelepasan manual. Lebih banyak waktu diperlukan bagi plasenta untuk lepas dan lebih banyak waktu dimana miometrium tetap rileks, lebih banyak darah hilang.

  • Ø Inspeksi permukaan plasenta maternal dan janin. Perhatikan ukuran, insersi tali pusat, keutuhan, perubahan vaskular berkenaan dengan penuaan dan kalsifikasi (yang mungkin meninggalkan abrupsi).

R/ Membantu mendeteksi abnormalitas yang mungkin berdampak pada keadaan ibu atau bayi baru lahir, jaringan plasenta yang tertahanmenimbulkan infeksi pasca partum dan hemoragi segera atau lambat.

Kolaborasi

  • Ø Hindari menarik tali pusat secara berlebihan

R/ Kekuatan dapat menimbulkan putusnya tali pusat dan retensi fragmen plasenta, meningkatkan kehilangan darah.

  • Ø Berikan cairan melalui rute parenteral.

R/ Membantu memperbaiki volume sirkulasi dan oksigenasi dari organ vital.

  • Ø Berikan oksitosin melalui IM atau drip diencerkan dalam larutan elektrolit.

R/ Meningkatkan efek vasokonstriksi dalam uterus untuk mengontrol perdarahan pasca partum

  • Ø Dapatkan dan catat informasi yang berhubungan dengan inspeksi jalan lahir terhadap laserasi. Bantu dengan perbaikan serviks, vagina, dan luasnya episiotomi.

R/ Laserasi menimbulkan kehilangan darah; dapat menimbulkan hemoragi.

  • Ø Bantu sesuai kebutuhan dengan pengangkatan plasenta secara manual di bawah anastesi umum dan kondisi steril.

R/ Intervensi manual perlu memudahkan pengeluaran plasenta dan menghentikan hemoragi.

 

 

2)      Risiko cedera (meternal) b/d posisi selama melahirkan/pemindahan, kesulitan dengan plasenta.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan tidak terjadi cedera maternal dengan kriteria evaluasi :

–          Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan.

–          Kesadaran pasien bagus.

Intervensi :

Mandiri

  • Palpasi fundus uteri dan masase perlahan.

R/ Memudahkan pelepasan plasenta.

  • Masase fundus secara perlahan setelah pengeluaran plasenta.

R/ Menghindari rangsangan/trauma berlebihan pada fundus.

  • Kaji irama pernapasan dan pengembangan.

R/ Pada pelepasan plasenta. Bahaya ada berupa emboli cairan amnion dapat masuk ke sirkulasi maternal, menyebabkan emboli paru.

  • Bersihkan vulva dan perineum dengan air larutan antiseptik, berikan pembalut perineal steril.

R/ Menghilangkan kemungkinan kontaminan yang dapat mengakibatkan infesi saluran asenden selama periode pasca partum.

  • Rendahkan kaki klien secara simultan dari pijakan kaki.

R/ Membantu menghindari regangan otot.

  • Kaji perilaku klien, perhatikan perubahan SSP.

R/ Peningkatan tekanan intrakranial selama mendorong dan peningkatan curah jantung yang cepat membuat klien dengan aneurisme serebral sebelumnya berisiko terhadap ruptur.

  • Dapatkan sampel darah tali pusat untuk menetukan golongan darah.

R/ Bila bayi Rh-positif dan klien Rh-negatif, klien akan menerima imunisasi dengan imun globulin Rh (Rh-Ig) pada pasca partum.

 

 

Kolaborasi

  • Gunakan bantuan ventilator bila diperlukan.

R/ Kegagalan pernapasan dapat terjadi mengikuti emboli amnion atau pulmoner.

  • Berikan oksitosin IV, posisikan kembali uterus di bawah pengaruh anastesi dan berikan ergonovin maleat (ergotrat) setelah penemapatan uterus kembali. Bantu dengan tampon sesuai dengan indikasi.

R/ Meningkatkan kontraktilitas miometrium uterus.

  • Berikan antibiotik profilatik.

R/ Membatasi potensial infeksi endometrial.

3)      Perubahan proses keluarga b/d terjadinya transisi (penambahan anggota keluarga), krisis situasi (perubahan pada peran/tanggung jawab).

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … tidak terjadi perubahan proses dalam keluarga dengan kriteria evaluasi :

–       Klien atau keluarga mendemonstrasikan perilaku yang menandakan kesiapan untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pengenalan bila ibu dan bayi secara fisik stabil

Intervensi :

Mandiri

  • Fasilitasi interaksi antara klien dan bayi baru lahir sesegera mungkin setelah melahirkan.

R/ Membantu mengembangkan ikatan emosi sepanjang hidup di antara anggota-anggota keluarga ibu dan bayi mempunyai periode yang sangat sensitive pada waktu dimana kemampuan interaksi ditingkatkan.

  • Berikan klien dan ayah kesempatan untuk menggendong bayi dengan segera setelah kelahiran bila kondisi bayi stabil.

R/ Kontak fisik dini membantu mengembangkan kedekatan. Ayah juga lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam aktivitas merawat bayi dan merasa ikatan emosi lebih kuat bila mereka secara aktif terlibat dengan bayi.

  • Tunda penetesan salep profilaksis mata sampai klien/pasangan dan bayi telah berinteraksi.

R/ Memungkinkan bayi untuk membuat kontak mata dengan orang tua dan secara aktif berpartisipasi dalam interaksi, bebas dari penglihatan kabur yang disebabkan oleh obat.

4)      Nyeri b/d trauma jaringan, respon fisiologis setelah melahirkan.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan nyeri hilang atau berkurang dengan kriteria evaluasi :

–          Menyatakan nyeri berkurang dengan skala (0-3).

–          Wajah tampak tenang.

–          Wajah tampak tidak meringis.

Intervensi :

Mandiri

  • Bantu dengan teknik pernapasan selama perbaikan pembedahan bila tepat.

R/ Pernapasan membantu mengalihkan perhatian langsung dari ketidaknyamanan, meningkatkan relaksasi.

  • Berikan kompres es pada perineum setelah melahirkan.

R/ Mengkonstriksikan pembuluh darah, menurunkan edema dan memberikan kenyamanan dan anastesi lokal.

  • Ganti pakaian dan linen basah.

R/ Meningkatkan kenyamanan, hangat, dan kebersihan.

  • Berikan selimut hangat.

R/ Tremor/menggigil pada pasca melahirkan mungkin karena hilangnya tekanan secara tiba-tiba pada saraf pelvis atau kemungkinana dihubungkan dengan tranfusi janin ke ibu yang terjadi pada pelepasan plasenta.

Kolaborasi

  • Bantu dalam perbaikan episiotomi bila perlu.

R/ Penyambungan tepi-tepi memudahkan penyembuhan.

5)      Risiko infeksi b/d trauma jaringan, sisa plasenta yang tertahan.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan tidak

terjadi infeksi dengan kriteria evaluasi :

–       Tanda vital stabil.

–       Nilai lab (WBC) dalam batas normal.

Intervensi :

Mandiri

  • Ø Lakukan perawatan perineal setiap 4 jam. Ganti linen/pembalut sesuai kebutuhan.

R/ Membantu meningkatkan kebersihan, mencegah kontaminasi bakteri, mencegah infeksi.

  • Ø Pantau suhu, nadi, tekanan darah, dan WBC sesuai indikasi.

R/ Peningkatan suhu, nadi, dapat menandakan infeksi.

  • Ø Gunakan teknik aseptik pada persiapan peralatan.

R/ Menurunkan risiko kontaminasi.

  • Ø Berikan pengertian kepada keluarga untuk membatasi jumlah pengunjung.

R/ Menurunkan risiko infeksi karena kontaminasi silang.

Kolaborasi

  • Ø Berikan antibiotik sesuai indikasi.

R/ Penanganan terhadap infeksi.

  1. Implementasi

Sesuai dengan rencana intervensi

  1. Evaluasi

Sesuai dengan respon masing-masing klien terhadap intervensi keperawatan yang diberikan dihubungkan dengan tujuan intervensi dan kriteria evaluasi.

WOC kala III terlampir

  1. 4. KALA IV
  2. Pengkajian

1)      Aktivitas / Istirahat

Pasien tampak “berenergi” atau keletihan / kelelahan, mengantuk

2)      Sirkulasi

v  Nadi biasanya lambat (50 – 70x / menit) karena hipersensitivitas vagal

v  TD bervariasi : mungkin lebih rendah pada respon terhadap analgesia / anastesia, atau meningkat pada respon terhadap pemeriksaan oksitosin atau hipertensi karena kehamilan

v  Edema : bila ada mungkin dependen (misal : pada ekstremitas bawah), atau dapat juga pada ekstremitas atas dan wajah atau mungkin umum (tanda hipertensi pada kehamilan)

v  Kehilangan darah selama persalinan dan kelahiran sampai 400 – 500 ml untuk kelahiran per vagina atau 600-800 ml untuk kelahiran sesaria

3)      Integritas Ego

v  Reaksi emosional bervariasi dan dapat berubah-ubah misal : eksitasi atau perilaku menunjukkan kurang kedekatan, tidak berminat (kelelahan), atau kecewa

v  Dapat mengekspresikan masalah atau meminta maaf untuk perilaku intrapartum atau kehilangan kontrol, dapat mengekspresikan rasa takut mengenai kondisi bayi baru lahir dan perawatan segera pada neonatal.

4)      Eleminasi

v  Hemoroid sering ada dan menonjol

v  Kandung kemih mungkin teraba di atas simpisis pubis atau kateter urinarius mungkin dipasang

v  Diuresis dapat terjadi bila tekanan bagian presentasi menghambat aliran urinarius dan atau cairan IV diberikan selama persalinan dan kelahiran.

5)      Makanan / Cairan

Dapat mengeluh haus, lapar, mual

 

 

6)      Neurosensori

Hiperrefleksia mungkin ada (menunjukkan terjadinya dan menetapnya hipertensi, khususnya pada pasien dengan diabetes mellitus, remaja, atau pasien primipara)

7)      Nyeri / Ketidaknyamanan

Pasien melaporkan ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya setelah nyeri, trauma jaringan / perbaikan episiotomi, kandung kemih penuh, atau perasaan dingin / otot tremor dengan “menggigil”

8)      Keamanan

v  Pada awalnya suhu tubuh meningkat sedikit (dehidrasi)

v  Perbaikan episiotomi utuh dengan tepi jaringan merapat

9)      Seksualitas

v  Fundus keras berkontraksi, pada garis tengah dan terletak setinggi umbilikus

v  Drainase vagina atau lokhia jumlahnya sedang, merah gelap dengan hanya beberapa bekuan kecil

v  Perineum bebas dari kemerahan, edema, ekimosis, atau rabas

v  Striae mungkin ada pada abdomen, paha, dan payudara

v  Payudara lunak dengan puting tegang

10)  Penyuluhan / Pembelajaran

Catat obat-obatan yang diberikan, termasuk waktu dan jumlah

11)  Pemeriksaan Diagnostik

Hemoglobin / Hematokrit (Hb/Ht), jumlah darah lengkap, urinalisis. Pemeriksaan lain mungkin dilakukan sesuai indikasi dari temuan fisik.

  1. Diagnosa keperawatan

1)      Kekurangan volume cairan b/d kelelahan / kegagalan miometri dari mekanisme homeostatik (misal : sirkulasi uteroplasental berlanjut, vasokontriksi tidak komplet, ketidakadekuatan perpindahan cairan, efek – efek hipertensi saat kehamilan)

2)      Nyeri akut b/d trauma mekanis / edema jaringan, kelelahan fisik dan psikologis, ansietas

3)      Perubahan proses keluarga b/d transisi / peningkatan perkembangan anggota keluarga

4)      PK Perdarahan

  1. Perencanaan
    1. Kekurangan volume cairan b/d kelelahan / kegagalan miometri dari mekanisme homeostatik (misal : sirkulasi uteroplasental berlanjut, vasokontriksi tidak komplet, ketidakadekuatan perpindahan cairan, efek-efek hipertensi saat kehamilan)

Tujuan : Setelah diberikan askep selama … diharapkan tidak terjadi kekurangan volume cairan

Kriteria evaluasi :

–          TTV dalam batas normal

–          Kontraksi uterus kuat, aliran lokhea sedang, tidak ada bekuan

–          Menunjukkan perbaikan episiotomi, luka kering, dan utuh

Intervensi :

  • Tempatkan pasien pada posisi rekumben

Rasional : Mengoptimalkan aliran darah serebral dan memudahkan pematauan fundus dan aliran vaginal

  • Kaji jenis persalinan dan anastesia, kehilangan darah pada persalinan dan lama persalinan tahap II

Rasional : Kaji manipulasi uterus atau masalah-masalah dengan pelepasan plasenta dapat menimbulkan kehilangan darah

  • Catat lokasi dan konsistensi fundus setiap 15 menit

Rasional : Aktivitas miometri uterus menimbulkan hemostasis dengan menekan pembuluh darah endometrial. Fundus harus keras dan terletak di umbilikus. Perubahan posisi dapat menandakan kandung kemih penuh, tertahannya bekuan darah atau relaksasi uterus

  • Observasi jumlah, warna darah yang keluar dari uterus setiap 15 menit

Rasional : Membantu mengidentifikasi laserasi yang potensial terjadi pada vagina dan servik yang dapat mengakibatkan aliran berlebihan dan merah terang. Atonia uteri dapat meningkatkan aliran lokhea.

  • Kaji penyebab perdarahan

Rasional : Untuk dapat melakukan intervensi, apakah perlu histerektomi karena ruptur uteri, apakah perlu oksitosin dan sebagainya.

  • Kaji TTV (nadi, TD) setiap 15 menit

Rasional : Perpindahan cairan dan darah ke dasar vena, penurunan sedang diastolik dan sistolik TD dan takikardia dapat terjadi. Perubahan yang lebih nyata dapat terjadi pada respon terhadap magnesium sulfat, atau syok atau ditingkatkan dalam respon terhadap oksitosin. Bradikardia dapat terjadi secara normal pada respon terhadap peningkatan curah jantung dan peningkatan isi sekuncup dan hipersensitif vagal setelah kelahiran. Takikardia lanjut dapat disertai syok.

  • Kaji intake dan output cairan

Rasional : Untuk mengetahui jumlah cairan yang masuk dan keluar, dan untuk menentukan jumlah cairan yang harus diberikan, bila perdarahan berlebihan

  • Beri pasien cairan dan elektrolit peroral jika memungkinkan

Rasional : Untuk mengganti cairan intravaskuler yang hilang karena perdarahan

Kolaborasi :

  • Periksa Hb, Ht pada pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan segera

Rasional : membantu memperkirakan jumlah kehilangan darah

  • Pasang infus IV larutan isotonik

Rasional : meningkatkan volume darah dan menyediakan vena terbuka untuk pemberian obat-obatan darurat

  • Berikan preparat oksitosin atau preparat ergometrin, tingkatkan kecepatan infus oksitosin intravena bila perdarahan uterus menetap

Rasional : merangsang kontraktilitas miometrium, menutup pembuluh darah yang terpajan pada sisi bekas plasenta dan menurunkan kehilangan darah

  • Cek jumlah trombosit, kadar fibrinogen, dan produk fibrin split, masa protrombin, dan masa tromboplastin

Rasional : perubahan dapat menunjukkan terjadinya kelainan koagulasi

  • Gantikan kehilangan cairan dengan plasma atau darah lengkap sesuai indikasi

Rasional : Penggantian cairan yang hilang diperlukan untuk meningkatkan volume sirkulasi dan mencegah syok

  • Bantu dalam persiapan dilatasi dan kuretase, laparotomi, evakuasi hematoma, perbaiki laserasi jalan lahir, histerektomi

Rasional : Bila perdarahan tidak berespon terhadap tindakan konservatif / pemberian oksitosin, pembedahan dapat diindikasikan

 

  1. Dx 2  : Nyeri akut b/d trauma mekanis / edema jaringan, kelelahan fisik dan psikologis, ansietas

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan pasien dapat mengontrol nyeri, nyeri berkurang

Kriteria Evaluasi :

–          Pasien melaporkan nyeri berkurang

–          Menunjukkan postur dan ekspresi wajah rileks

–          Pasien merasakan nyeri berkurang pada skala nyeri (0-2)

Intervensi :

  • Ø Kaji sifat dan derajat ketidaknyamanan, jenis melahirkan, sifat kejadian intrapartal, lama persalinan, dan pemberian anastesia atau analgesia

Rasional : Membantu mengidentifikasi faktor – faktor yang memperberat ketidaknyamanan nyeri

  • Ø Berikan informasi yang tepat tentang perawatan rutin selama periode pascapartum

Rasional : Informasi dapat mengurangi ansietas berkenaan rasa takut tentang ketidaktahuan, yang dapat memperberat persepsi nyeri

  • Ø Inspeksi perbaikan episiotomi atau laserasi. Evaluasi penyatuan perbaikan luka, perhatikan adanya edema, hemoroid

Rasional : Trauma dan edema meningkatkan derajat ketidaknyamanan dan dapat menyebabkan stress pada garis jahitan

  • Ø Berikan kompres es

Rasional : Es memberikan anastesia lokal, meningkatkan vasokontriksi dan menurunkan pembentukan edema

  • Ø Lakukan tindakan kenyamanan (misalnya : perawatan mulut, mandi sebagian, linen bersih dan kering, perawatan perineal periodik)

Rasional : Meningkatkan kenyamanan, perasaan bersih

  • Ø Masase uterus dengan perlahan sesuai indikasi. Catat adanya faktor-faktor yang memperberat hebatnya dan frekuensi afterpain

Rasional : Masase perlahan meningkatkan kontraktilitas tetapi tidak seharusnya menyebabkan ketidaknyamanan berlebihan. Multipara, distensi uterus berlebihan, rangsangan oksitosin dan menyusui meningkatkan derajat after pain berkenaan dengan kontraksi miometrium

  • Ø Anjurkan penggunaan teknik pernafasan / relaksasi

Rasional : Meningkatkan rasa kontrol dan dapat menurunkan beratnya ketidaknyamanan berkenaan dengan afterpain (kontraksi) dan masase fundus

  • Ø Berikan lingkungan yang tenang, anjurkan pasien istirahat

Rasional : Persalinan dan kelahiran merupakan proses yang melelahkan. Dengan ketenangan dan istirahat dapat mencegah kelelahan yang tidak perlu

  • Ø Kolaborasi : pemberian analgesik sesuai kebutuhan

Rasional : Analgesik bekerja pada pusat otak, yaitu dengan menghambat prostaglandin yang merangsang timbulnya nyeri

 

  1. Dx 3  : Perubahan proses keluarga b/d transisi / peningkatan perkembangan anggota keluarga

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … diharapkan keluarga dapat menerima kehadiran anggota keluarga yang baru

Kriteria Evaluasi :

  • Ø Menggendong bayi saat kondisi ibu dan neonatus memungkinkan
  • Ø Mendemonstrasikan perilaku kedekatan dengan anak

Intervensi :

  • Ø Anjurkan pasien untuk menggendong, menyentuh, dan memeriksa bayi

Rasional : Jam-jam pertama setelah kelahiran memberikan kesemaptan untuk terjadinya ikatan keluarga, karena ibu dan bayi secara emosional saling menerima isyarat yang menimbulkan kedekatan dan penerimaan

 

  • Ø Anjurkan ayah untuk menyentuh dan menggendong bayi dan membantu dalam perawatan bayi, sesuai kondisi

Rasional : Membantu memfasilitasi ikatan / kedekatan di antara ayah dan bayi. Ayah yang secara aktif berpartisipasi dalam proses kelahiran dan aktivitas interaksi pertama dari bayi, secara umum menyatakan perasaan ikatan khusus pada bayi

  • Ø Observasi dan catat interaksi bayi – keluarga, perhatikan perilaku untuk menunjukkan ikatan dan kedekatan dalam budaya khusus

Rasional : Kontak mata dengan mata, penggunaan posisi menghadap wajah, berbicara dengan suara tinggi dan menggendong bayi dihubungkan dengan kedekatan antara ibu dan bayi

  • Ø Catat pengungkapan / perilaku yang menunjukkan kekecewaan atau kurang minat / kedekatan

Rasional : Datangnya anggota keluarga baru, bahkan sekalipun sudah diinginkan menciptakan periode disekulibrium sementara, memerlukan penggabungan anak baru ke dalam keluarga yang ada.

  • Ø Terima keluarga dan sibling dengan senang hati selama periode pemulihan bila diinginkan oleh pasien dan dimungkinkan oleh kondisi ibu / neonatus dan lingkungan

Rasional : Meningkatkan unit keluarga, dan membantu sibling untuk memulai proses adaptasi positif pada peran baru dan masuknya anggota baru dalam struktur keluarga.

  • Ø Anjurkan dan bantu pemberian ASI, tergantung pada pilihan pasien dan keyakinan / praktik budaya

Rasional : Kontak awal mempunyai efek positif pada durasi pemberian ASI, kontak kulit dengan kulit, dan mulainya tugas ibu meningkatkan ikatan

  • Ø Berikan informasi mengenai perawatan segera pasca kelahiran

Rasional : Informasi menghilangkan ansietas yang mungkin mengganggu ikatan atau hasil dari “self absorption” lebih dari perhatian pada bayi baru lahir

 

 

  1. Implementasi

Sesuai rencana intervensi

  1. Evaluasi

Sesuai dengan respon masing-masing klien terhadap intervensi keperawatan yang diberikan dihubungkan dengan tujuan intervensi dan kriteria evaluasi

WOC kala IV terlampir

DAFTAR PUSTAKA

 

Carpenito, L. J. 2001. Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.

Doenges & Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi: Pedomaan Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. Jakarta. EGC

 

Farrer H. 1999. Perawatan Maternitas. Edisi 2. Jakarta. EGC

Hanifa Wiknjosastro, Prof. dr. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

 

Henderson & Jones. 2006. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC.

Mochtar R, Prof. dr. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC

NANDA 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta. Prima Medika.

Waspodo, dkk. 2007. Asuhan Persalinan Normal, Buku Acuan. Jakarta : Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi.

 

 

Leave a comment

Filed under Askep

KONSEP BERMAIN PADA ANAK

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  PENGERTIAN

Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anka dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berprilaku dewasa. Sebagai suatu aktivitas yang memberikan stimulasi dalam kemapuan keterampilan, kognitif, dan afektif maka sepatutnya diperlukan suatu bimbingan, mengingat bermain bagi anak merupakan suatu kebutuhan bagi dirinya sebagaimana kebtuhan lainnya seperti kebutuhan makan, kaebuthan rasa aman, kebutuhan kasih sayang dan lain-lain. Sebagai kebutuhan sebaiknya juga perlu diperhatikan secara cermat bukan hanya dijadikan mengisi kesibukan atau mengisi waktu luang. Perhatian selama proses bermain pada anak-anak sangat penting mengingat dalam proses bermain dapat ditemukan kekurangan dari kebutuhan bermain seperti kreativitas anak, perkembangan mental dan emosi yang harus diarahkan agar sesuai dengan proses kematangan perkembangan.

2.2  FUNGSI

  1. Perkembangan Sensorimotor
  • Memperbaiki keterampilan motorik dasar dan halus serta koordinasi
  • Meningkatkan perkembangan semua indra
  • Mendorong eksplorasi pada sifat fisik dunia
  • Memberikan pelampiasan kelebihan energi
  1. Perkembangan intelektual
  • Memberikan sumber-sumber yang beranekaragam untuk pembelajaran
  • Ekplorasi dan manipulasi bentuk,ukuran,tekstur, warna
  • Pengalaman dengan angka,hubungan yang renggang, konsep abstrak
  • Kesempatan untuk mempraktikan dan memperluas keterampilan berbahasa
  • Memberikan kesempatan untuk melatih pengalaman masa lalu dalam upaya mengasimilasinya ke dalam persepsi dan hubungan baru
  • Membsntu anak memehami dunia di mana mereka hidup dan membedakan antara fantasi dan realita

 

  1. Perkembangan sosialisasi dan moral
  • Mengajarkan peran orang dewasa, termasuk perilaku peran seks
  • Memberikan kesempatan untuk menguji hubungan
  • Mengembangkan keterampilan social
  • Mendorong interaksi dan perkembangan sikap yang positif terhadap orang lain
  • Menguatkan pola  prilaku yang telah disetujui dan standar moral
  1. Kreativitas
  • Memberikan saluran ekspresif untuk ide dan minat yang kreatif
  • Memungkinkan fantasi dan imajinasi
  • Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus
  1. Kesadaran diri
  • Memudahkan perkembangan identitas diri
  • Mendorong  pengaturan perilaku sendiri
  • Memungkinkan pengujian pada kemampuan sendiri (keahlian sendiri)
  • Memberikan perbandingan antara kemampuan sendiri dan kemampuan orang lain
  • Memungkinkan kesempatan untuk belajar bagaimana perilaku sendiri dapat mempengaruhi orang lain
  1. Nilai terapeutik
  • Memberikan pelepasan stress dan ketegangan
  • Memungkinkan ekspresi emosi dan pelepasan impuls yang tidak dapat diterima dalam bentuk yang secara social dapat diterima
  • Mendorong percobaan dan pengujian situasi yang menakutkan dengan cara yang aman
  • Memudahkan komunikasi verbal tidak langsung dan nonverbal tentang kebutuhan, rasa takut dan keinginan

 

2.3  KEUNTUNGAN BERMAIN

Banyak keuntungan-keuntungan yang dipetik dalam bermain antara lain :

Membuang ekstra energi

Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan organ-organ

Aktivitas yang dilakukan dapat meningkatkan nafsu makan anak

Anak belajar mengontrol diri

Berkembangnya berbagai keterampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya

Meningkatkan daya kreativitas

Mendapatkan kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak

Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekhawatiran, iri hati dan kedukaan

Kesempatan untuk belajar bergaul dengan anak lainnya

Kesempatan untuk menjadi pihak yang kalah maupun yang menang di dalam bermain

Kesempatan untuk belajar mengikuti aturan-aturan

Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya

 

2.4  KECENDERUNGAN UMUM SELAMA ANAK-ANAK

Usia : Bayi

Karakter sosial bermain : Soliter (sendiri)

Isi bermain : Afektif-sosial

Tipe paling lazim dari bermain : sensorimotor

Karakteristik aktivitas spontan : kesenangan

Tujuan bermain dramatik : identitas diri

Perkembangan rasa etik : –

 

Usia : Todler

Karakter sosial bermain : Paralel

Isi bermain : imitatif

Tipe paling lazim dari bermain : gerakan tubuh

Karakteristik aktivitas spontan : penilaian intuitif

Tujuan bermain dramatik : mempelajari peran jender

Perkembangan rasa etik : memulai nilai-nilai moral

 

Usia : Pra-sekolah

Karakter sosial bermain : Asosiatif

Isi bermain : Imajinatif

Tipe paling lazim dari bermain : Fantasi, permainan informal

Karakteristik aktivitas spontan : Pembentukan konsep, Ide konstan yang beralasan

Tujuan bermain dramatik : meniru kehidupan social, mempelajari peran sosial

Perkembangan rasa etik : mengembangkan perhatian pada teman-teman bermain, belajar untuk berbagi dan bekerja sama

 

Usia : usia sekolah

Karakter sosial bermain : kooperatif

Isi bermain : permainan kompetitif dan kontes , fantasi

Tipe paling lazim dari bermain : aktivitas fisik, aktivitas kelompok, permainan formal, bermain peran

Karakteristik aktivitas spontan : menguji situasi konkrit dan pemecahan masalah, menambahkan informasi baru

Tujuan bermain dramatik : penguasaan pengalaman orang lain

Perkembangan rasa etik : loyalitas sebaya, bermain dengan aturan, kepahlawanan

 

Usia : Remaja

Karakter sosial bermain : kerjasama

Isi bermain : permainan kompetitif dan kontes, mimpi siang hari

Tipe paling lazim dari bermain : interaksi sosial

Karakteristik aktivitas spontan : pemecahan masalah abstrak

Tujuan bermain dramatik : menunjukkan ide-ide

Perkembangan rasa etik : penyebab dan proyek.\

 

2.5  PEDOMAN KEAMANAN BERMAIN

Pemilihan

  • Pilih mainan yang sesuai dengan keterampilan, kemampuan dan minat anak
  • Pilih mainan yang man untuk anak tertentu ; lihat label yang menunjukkan kelompok usia yang sesuai. Mainan yang aman untuk suatu usia mungkin tidak aman untuk usia lain
  • Untuk bayi, toddler, dan semua anak yang masih memasukkan objek-objek ke mulut, hindari mainan dengan bagian-bagian yang kecil yang dapat menimbulkan bahaya tersedak dan aspirasi yang fatal. Mainan pada kategori ini biasanya di label : “ tidak dianjurkan untuk anak dibawah 3 tahun “
  • Untuk bayi hindari mainan dengan kawat atau kabel yang panjangnya 17 cm atau lebih, karena dapat menyebabkan ia tercekik
  • Untuk anak di bawah 8 tahun, hindari mainan listrik dengan elemen pemanas
  • Untuk anak dbawah 5 tahun, hindari panah atau papan panahan.
  • Periksa adnya label keamanan seperti”tahan api” atau “tahan panas”.
  • Pilih mainan yang cukup tahan lama untuk permainan kasar, lihat untuk kekokohan konstruksi seperti mata, hidung, atau bagian kecil lainnya.
  • Pili mainan dengan tepi halus atau kasar. Hindari mainan dengan tepi tajam yang dapat memotong atau mempunyai ujung yang tajam. Ujung pada bagian dalam mainan dapat menusuk bila mainan tersebut patah.
  • Hindari mainan dengan objek tembakan atau lemparan yang dapat mencederai mata.
  • Hal ini termasuk mainan dimana peluru, seperti stik atauu batu kerikil dapat digunakan sebagai pengganti untuk proyek tersebut.
  • Panah dan papan panahan yang digunakan oleh anak, harus berujung tumpul dan dibuat dari bahan pegas. Pastikan ujung terletak dengan aman.
  • Pastikan bahwa bahan-bahan pembuat mainan tersebbut tidak beracun.
  • Hindari mainan yang membuat kebisingan yang dapat merusak kebisingan yang dapat merusak pendengaran.
  • Mainan yang berdecit sekalipun akan terlalu keras bila dibunyikan didekat telinga
  • Bila memilih penutup untuk menutupi senjata, cari label yang diharuskan oleh negara atau tipe pelindung lain. Periksa untuk memastikan baahwa ujung tersebut aman.
  • Bila memilih mainan senjata, pastikan bahwa barel atau keseluruhan senjata berwarna terang untuk menghindari kesalahan dengan senjata yang sebenarnya.
  • Periksa instruksi mainan untuk kejelasan. Instruksi ini harus jelas untuk orang dewasa dan bila tepat untuk anak-anak.

 

PENGAWASAN

  • Pertahankan lingkungan bermain yang aman.
  • Singkirkan dan buang penutup plastic dengan segera, pembungkus ini dapat menyumbat pernapasan.
  • Singkirkan mainan-maina yang besar, bantalan benturan, dan kotak-kotak dari bantalan bermain, anak yang sangat berani dapat menggunakan alat-alat tersebut sebagai alat untuk memanjat atau terjatuh
  • Susun “aturan dasar” untuk bermain
  • Awasi anak kecil dengan cermat selama bermain
  • Ajarkan anak tentang bagaimana caranya menggunakan mainan dengan tepat dan aman
  • Instruksikan anak yang lebih besar untuk menyimpan mainan mereka jauh dari saudara yang lebih kecil, teman
  • Jaga agar anak yang sedang bermain dengan mainan mainan yang dapat dikendarai agar jauh dari tangga, tanjakan, lalu lintas dan kolam renang
  • Tetapkan dan kuatkan aturan mengenai pakaian pelindung
  • Tegaskan bahwa anak memakai helm ketika mengendarai sepeda, skateboard, in-line skate
  • Tegaskan bahwa anak memakai sarung tangan dan pelindung pergelangan, siku dan lutut ketika bermain skate board atau in-line skate
  • Instruksikan anak tentang keamanan listrik
  • Ajarkan anak tentang cara yang tepat untuk melepaskan mainan listrik dari terminal stop kontaknya, tarik stop kontaknya, buak kabelnya
  • Ajarkan anak untuk memperhatikan alat-alat listrik dan bahkan mainan yang dioperasikan dengan listrik, seringkali anak tidak mengenal bahwa listrik ada hubungannnya dengan air
  • Ajarkan anak tentang keamanan penggunaan alat dalam situasi yang dapat menyebabkan cedera seperti gunting, pisau, jarum, elemen pemanas atau loop, kawat panjang atau kabel

 

 

 

 

PEMELIHARAAN

  • Inspeksi mainan yang lama dan baru secara teratur untuk melihat adanya kerusakan, bagian yang kendor,  dan bahaya potensial lain
  • Cari adanya tepi yang tajam atau bergerigi atau bagian yang patah yang dapat menimbulkan bahaya tersedak
  • Periksa bagian yang dapat digerakkan untuk memastikan alat ini dilekatkan dengan aman pada mainan menjadi berbaahaya bila dilepaskan
  • Periksa semua mainan diluar rumah secara teratur untuk adanya karat dan bagian-bagian yang sudah lemah atau tajaam yang dapat membahayakan anak
  • Periksa kabel listrik dan stop kontak untuk melihat adanya bagian yang terputus atau menjuntai
  • Pertahankan mainan dalam kondisi baik, tanpa tanda bahaya yang mungkin seperti tepi tajam, serpihan, tampak lemah atau berkarat
  • Lakukan perbaikan dengan segera atau buang jauh dari jangkauan anak
  • Kikir mainan kayu yang tajam atau haluskan permukaannya
  • Gunakn hanya cat berlabel “non toksik” untuk mencat ulang mainan, kotak mainan, atau perabot anak.

 

PENYIMPANAN

  • Berikan tempat yang aman untuk menyimpan mainan anak
  • Pilih kotak atau boks mainan yang berventilasi, bebas dari alat pengunci yang dapat menjebak anak di dalamnya dan berikan design penutup bukan untuk menjepit jari anak atau menjatuhi kepala anak
  • Bila wadah lain yang digunakan untuk menyimpan barang-barang, wadah ini harus disesuaikan dengan alat penyokong bila memiiliki penutup untuk meenghindari anak terjebak dan kekurangan napas
  • Ajarkan anak untuk menyimpan mainan dengan aman dalam upaya mencegah cedera kecelakaan dari tergelincir, terjebak atau jatuh karena mainan
  • Alat bermain yang berarti untuk anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa harus disimpan di tempat yang tinggi di lemari tertutup, atau di area lain yang tidak dapat dijangkau oleh anak kecil

 

 

2.6  KARAKTERISTIK BERMAIN SELAMA TAHAP USIA BAYI s/d PRA SEKOLAH

  • Bermain di Masa Bayi

Usia

(bulan)

Stimulasi Visual Stimulasi Auditoris Stimulasi Taktil Stimulasi Kinetik
Aktivitas yang dianjurkan        
Lahir-1
  • Lihatlah bayi pada jarak dekat
  • Gantungkan objek terang berkilat dalam jarak 20-25 cm dari wajah bayi dan di garis tengah
  • Gantungkan mobil-mobilan dengan desain hitam dan putih
    • Bicara pada bayi, bernyanyi dengan suara lembut
    • Mainkan kotak musik, radio, televisi
    • Latakkan jam berdetik atau metronom di dekatnya
      • Gendong, belai, dan sayang
      • Pertahankan agar bayi hangat
      • Mungkin suka dibedong
      • Ayun bayi, tempatkan di kereta
      • Gunakan carriage untuk berjalan-jalan
 

 

 

 

 

 

 

 

         
2-3
  • Berikan objek terang
  • Buat agar ruangan terang dengan gambar dan cermin
  • Bawa bayi ke berbagai ruangan sambil melakukan tugas
  • Tempatkan bayi di kursi bayi untuk pandangan vertikal pada lingkungan
    • Bicara pada bayi
    • Masukkan dalam kebersamaan keluarga
    • Pajankan pada berbagai kebisingan lingkungan selain kebisingan rumah saja
    • Gunakan mainan yang jika digoyangkan akan mengeluarkan suara (mis: kerincingan)
      • Belai bayi sambil mmandikan, pada penggantian popok
      • Sisir rambut dengan sikat halus
      • Gunakan pengayun bayi
      • Bawa ke mobil untuk berkendara
      • Latih tubuh dengan menggerakkan ekstremitas dalam gerakan berenang
      • Gunakan ayunan gim
         
4-6
  • Tempatkan bayi di depan cermin tidak dapat pecah
  • Berikan mainan berwarna terang untuk di pegang (cukup kecil untuk di genggam)
    • Bicara pada bayi, ulangi bunyi yang dibuat bayi
    • Tertawa bila bayi tertawa
    • Panggil bayi dengan namanya
    • Remas kertas yang berbeda di telinga bayi
    • Tempatkan mainan yang jika digoyangkan akan mengeluarkan bunyi atau bel di tangan bayi
      • Berikan pada bayi mainan remasan yang lembut dengan berbagai tekstur
      • Biarkan mencebur di saat mandi
      • Tempatkan tubuh bayi  yang telanjang di atas permadani yang lembut dan halus dan gerakkan ekstremitas
      • Gunakan ayunan atau stroller
      • Lambungkan bayi dipangkuan sambil memegangnya dalam posisi berdiri
      • Sokong bayi dalam posisi duduk, biarkan bayi condong ke depan untuk keseimbangan diri
      • Tempatkan bayi di lantai untuk merangkak, berguling, duduk
 
         
6-9
  • Berikan pada bayi mainan yang besar dengan warna terang, bagian yang dapat bergerak, dan dapat berbunyi
  • Tempatkan cermin yang tidak dapat pecah dimana bayi dapat melihat dirinya
  • Mainkan ciluk ba, khususnya menyembunyikan wajah di balik handuk
  • Buat wajah lucu untuk mendorong imitasi
  • Berikan bola rajutan atau benang untuk ditarik
    • Panggil bayi dengan namanya
    • Ulangi kata sederhan seperti “dada” “mama” “daag-daag”
    • Bicara dengan jelas
    • Sebutkan nama bagian tubuh, orang, dan makanan
    • Beri tahu bayi apa yang anda lakukan
    • Gunakan “tidak” hanya bila perlu
    • Berikan perintah sederhan
    • Tunjukkan bagaimana menepuk yangan, memukul drum
      • Biarkan bayi bermain dengan kain dari berbagai tekstur
      • Berikan mangkuk yang berisi makanan dengan ukuran dan tekstur yang berbeda untuk dirasakan
      • Biarkan bayi “menangkap” air mengalir
      • Anjurkan anak untuk “berenang” di bak besar atau kolam dangkal
      • Berikan gumpalan plester yang lengket untuk memanipulasi
      • Pegang tegak untuk merasakan beban berat badan dam lambungkan
      • Naikkan, kata “naik”
      • Turunkan, kata “turun”
      • Tempatkan mainan di luar jangkauan, dorong bayi mengambilnya
      • Mainkan pat-a-cake
         
9-12
  • Tunjukkan pada bayi gambar yang besar di dalam buku
  • Bawa bayi ke tempat dimana ada bintang, banyak orang, objek berbeda (pusat perbelanjaan)
  • Mainkan bola dengan menggelindingkannya ke anak, dan ajarkan untuk melakukan “lemparan” kembali
  • Demonstrasikan cara pembangunan menara dua-blok
    • Bacakan untuk bayi cerita nina bobo sederhana
    • Tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan salah satunya
    • Tiru bunyi binatang
    • Berikan pada bayi makanan yang dipegang dengan tekstur yang berbeda-beda
    • Biarkan bayi menghancurkan dan memberantakkan makanan
    • Biarkan bayi merasakan objek dingin (es batu) atau hangat, katakan berapa suhu masing-masing objek tersebut
    • Berikan bayi merasakan angin sepoi-sepoi
    • (tiupan kipas angin)
    • Berikan mainan besar yang dapat ditarik dorong
    • Tempatkan perabot dalam lingkaran untuk mendorong pengeksplorasian
    • Kembalikan pada posisi yang berbeda
Mainan yang dianjurkan        
Lahir-6
  • Mobil mainan anak-anak
  • Cermin yang tidak dapat pecah
  • Lihat pelindung benturan
  • Selimut berwarna kontras
  • Kotak musik
  • Mobil musik
  • Bel keranjang bayi
  • Mainan kecil yang jika digoyangkan akan mengeluarkan bunyi dan dapat dipegang
  • · Mainan binatang
  • · Pakaian halus
  • · Selimut kapas lembut atau halus
  • · Mobil halus
  • · Keranjang/ayunan
  • · Mainan yang diperberat atau dihisap
  • · Ayunan bayi
6-12
  • Berbagai blok berwarna
  • Kotak atau cangkir berjaring
  • Buku dengan cerita dan gambar yang terang
  • Benang dengan diameter besar
  • Mainan dengan bagian yang mudah dilepas
  • Bola besar
  • Cangkir dan sendok
  • Puzzle besar
  • Jack-in-the-box
  • Mainan yang jika digoyangkan akan menumbulakan bunyi (kerincing) dengan ukuran, bentuk, dan suara yang berbeda serta berwarna terang
  • Binatang dan boneka yang berdecit
  • Rekam musik yang ringan dan berirama
  • · Binatang-binatangan dan boneka dengan tekstur yang lembut dan berbeda-beda
  • · Mainan beringga, mainan yang mengapung
  • · Mainan yang dapat diremas-remas
  • · Mainan yang untuk digigit
  • · Buku-buku dengan tekstur atau objek seperti bulu binatang dan resleting
  • · Boks aktivitas untuk keranjang bayi
  • · Mainan yang dapat didorong dan ditarik
  • · Ayunan angin
    • Bermain Selama Masa Todler

 

Perkembangan Fisik Perkembangan Sosial Perkembangan mental dan Kreativitas
Aktivitas yang dianjurkan    
  • Beri ruang untuk mendorong aktivitas fisik
  • Beri kotak mainan, ayunan, dan alat bermain lain
    • Berikan replika alat-alat orang dewasa dan alat untuk bermain imitatif
    • Izinkan anak untuk “membantu” tugas orang dewasa
    • Anjurkan untuk bermain imitatif
    • Berikan mainan dan aktivitas yang memungkinkan ekspresi perasaan
    • Izinkan anak untuk bermain dengan bebrapa hal aktual yang digunakan di dunia orang dewasa, misalnya: biarkan anak untuk membantu mencuci piring atau bermain dengan panci dan penggorengan atau alat-alat lain (periksa keamana)
      • Berikan permainan air
      • Anjurkan untuk membentuk, menggambar dan mewarnai
      • Berikan tekstur yang berbeda pada objek untuk bermain
      • Berikan kotak yang besar dan wadah lain yang aman untuk permainan imajinatif
      • Bacakan cerita yang sesuai dengan usia
Mainan yang dianjurkan    
  • Mainan yang dapat ditarik atau didorong
  • Kuda-kudaan yang dapat bergoyang
  • Mainan yang dapat dikendarai
  • Bola
  • Balok (yang tidak dicat)
  • Papan ketuk
  • Gym yang rendah dan seluncur
  • Ember dan sekop kecil
  • Containers
  • Adonan mainan
    • Musik dan rekaman mainan atau tape recorder
    • Dompet
    • Mainan rumah tangga
    • Telepon mainan
    • Piring, kompor, meja, dan kursi mainan cermin
    • Wayang, boneka-bonekaan
      • Puzzle kayu
      • Buku yang berisi gambar pakaian
      • Kertas, cat jari, kerayon tebal
      • Balok
      • Manik-manik besar bertali
      • Sepatu kayu
      • Program TV yang tepat

 

  • Bermain Selama Usia Pra-sekolah

 

Perkembangan Fisik Perkembangan Sosial Perkembangan Mental dan Kreativitas
Aktivitas yang dianjurkan    
  • Memberikan ruang untuk anak untuk belari, melompat, dan memanjat
  • Ajarkan anak untuk berenang
  • Ajarkan olahraga dan aktivitas yang sederhana
    • Anjurkan interaksi dengan anak-anak tetangga
    • Halangi anak jika ia menjadi destruktif
    • Daftarkan anak ke sekolah khusus untuk anak-anak prasekolah
      • Anjurkan usaha yang kreatif dengan bahan mentah
      • Membaca cerita
      • Pantau tontonan televisi
      • Hadirkan teater dan peristiwa budaya lainnya yang sesuai dengan usia anak
      • Ajaklah anak berjalan-jalan sejenak ke taman, pantai, museum
Mainan yang dianjurkan    
  • Papan jungkat-jungkit
  • Perosotan dengan tinggi sedang
  • Ayunan yang dapat diatur
  • Kendaraan yang dapat dikendarai
  • Sepeda roda tiga
  • Mengurangi kolam
  • Kereta sorong
  • Kereta luncur
  • Wagon
  • Roller skates
    • Rumah mainan berukuran anak
    • Boneka
    • Piring,meja
    • Papan setriks dan setrikanya
    • Mesin kasir dan mesin tulis mainan
    • Truk, mobil, kereta, pesawat
    • Baju-baju mainan untuk berdandan
    • Carriage boneka, tempat tidur, dan kursi tingginya
    • Peralatan dokter dan perawat
    • Paku, palu, dan gergaji
    • Alat-alat berdandan, alat tata rias dan alat cukur mainan
      • Buku-buku
      • Puzzle jigsaw
      • Mainan bermusik (xilophone, piano maianan, drum, terompet)
      • Permainan gambar
      • Guntuing tumpul, lem, kertas
      • Kertas koran, krayon, cat poster, kuas besar, cat jari easel
      • Mainan bermusik dan berirama
      • Papan flanel dan secarik kain yang berwarna dan berbentuk
      • Pregummed berbentuk geometrik (berwarna)
      • Rekaman, tape
      • Papan tuli dan kapur (berwarna dan putih)
      • Rangkaian konstruksi kayu dan plastik
      • Kaca pembesar, magnet

 

 

2.7  TERAPI BERMAIN PADA ANAK YANG DIHOSPITALISASI

Fungsi bermain di rumah sakit

  • Fasilitasi penguasaan situasi yang tidak familiar
  • Beri kesempatan untuk membuat keputusan dan control
  • Bantu untuk mengurangi stress terhadap perpisahan
  • Beri kesempatan untuk mempelajari tentang bagian-bagian tubuh, fungsinya, dan penyakit atau kecacatan sendiri
  • Perbaikai konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan tujuan peralatan dan prosedur medis
  • Beri peralihan dan relaksasi
  • Bantu anak untuk merasa lebih aman dalam lingkungan yang asing
  • Beri cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan perasaan
  • Anjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-aikap yang positif terhadap orang lain
  • Beri cara untuk mencapai tujuan-tujuan terapeutik

 

Menggunakan bermain dalam prosedur

PROYEK-PROYEK YANG MELIBATKAN RUTINITAS RUMAH SAKIT DAN LINGKUNGAN

BERMAIN BAHASA

  • Sebutkan kata kerja yang ditemukan di rumah sakit dan apa yang mereka laukukan atau bagaimana mereka digunakan ; kenali gambar dan kata peralatan rumah sakit dan atau cocokan kata kerja tersebut.
  • Susun kat kerja rumah sakit ( kata – kata pada kartu ) ke dalm orang, tempat, dan barang.
  • Sebutkan peralatan yang ditemukan dirumah sakit. Salah satu anak memberi gambaran penggunannya, dan anak yang lain menebak alat mana yang digambarkan.
  • Minta anak menulis, mengilustrasikan cerita:”rumah sakit di masa depan”,sesuatu yang saya suka dan tidak saya suka di rumah sakit.”
  • Simpan jurnal dengan gambar ( hanya dengan keterangan atau cerita ),”Saya di Rumah Sakit,” “ Bagian tubuh saya yang sakit,” “Dokter saya” “Perawat Saya” “Ruangan Saya”, “ Ruangan Saya” “Saya di Rumah dan Keluarga Saya.”Teman Sekamar Saya” “Sebelum Saya Sakit” “Setelah Saya Sakit”.

 

ILMIAH

  • Pelajari tentang sistem tubuh. Sebutkan, urutkan berdasarkan abjab, buat sebuah gambar, buat organ dari tanah lempung atau lilin mainan, minta anak untuk mengidentifikasi bagian sistem tubuh mana yang terlibat dalam masalah medis.
  • Pelajari tentang nutrisi secara umum dan alasan diet khusus.
  • Diskusikan bagaiman cara kerja obat, traksi, dan gips, bagaimana kesembuhan itu memerlukan waktu.

MATEMATIKA

  • Gunakan materi rumah sakit untuk mendiskusikan, sistemmetrik dan membuat anak semakin familiar dengan berat, panjang, dan volume badan. Untuk secara rutin dalam satuan dan objek rumah sakit yang tepat.
  • Masalah kata rumah sakit, gunakan situasi rumah sakit ( mis, Jika setiap perawat bekerja 8 jam per shift dan anak perlu enam perawat pad setiap shift berapa banyak perawat yang kamu perlukan untuk satu hari)

 

ILMU SOSIAL

  • Berapa banyak jumlah pekerjaan yang ada di rumah sakit?. Anak yang lebih tua usianya dapat menjelaskan dengan detail tentang keahlian dan pendidikan yang diperlukan untuk pekerjaan – pekerjaan tersebut.

GEOGRAFI

  • Buat peta tentang unit atau rumah sakit.
  • Buat peta tentang apa yang dilihat dari jendela rumah sakit-cari pada peta letak kota/desa/propinsi.

RIWAYAT

  • Teliti sejarah rumah sakit, sejarah cabang ilmu kedokteran atau profesi kedokteran, cari tahu lebihbanyak tentang orang terkenal Dallam sejarah kedokteran ( hipocrates, Florence Nightingale, Clara Barton, Roentgen ) atau penemuan-penemuan dan kemajuan di bidang medis ( lensa pertama, penemuan penisilin )

INTERAKSI DENGAN EPARTEMEN DAN KARYAWAN RUMAH SAKIT

  • Lakukan kunjungan lapangan ke kafetaria, dapur, laboratorium hewan, tempat bersejarah di rumah sakit, kantor (catatan medis,dll)
  • Minta karyawan rumah sakit untuk bercerits tentang profesi mereka (insinyur listrik, keamanan, rumah tangga, perawat, dokter, teknisi, humas, pekerja social, ahli farmasi, ahli terapi okupasi dan fisik)
  • Minta staf mengajarkan bagian dari pelajaran (perawat atau dokter mendiskusikan bagaimana obat-obat tersebut bekerja, teknisi menjelaskan tentang sinar-x, ahli diet menjelaskan tentang aspek nutrisi)

 

AKTIVITAS BERMAIN UNTUK PROSEDUR KHUSUS

Masukan cairan

  • Buat es lollipop dengan menggunakan jus kesukaan anak.
  • Potong agar-agar menjadi bentuk-bentuk yang lucu (untuk membuat agar-agar yang cukup keras, gunakan setengah dari jumlah air yang dianjurkan)
  • Buat permainan menghisap bila membalikkan halaman buku atau dalam permainan seperti permainan “Simon Says “
  • Gunakan cangkir obat yang kecil, gambari cangkir tersebut
  • Warnai air dengan pewarna makanan atau campuran bubuk minuman
  • Buat pesta teh ; lakukan di meja kecil
  • Minta anak mengisi spuit dan menyemprotkannya ke dalam mulutnya atau gunakan untuk mengisi cangkir kecil yang didekorasi
  • Potong sedotan menjadi dua dan tempatkan dalam wadah kecil (agar anak lebih mudah untuk menghisap cairan)
  • Hiasi sedotan tersebut – potong rancangan kecil dengan dua lubang dan masukan sedotan melewatinya; tempatkan stiker kecil di sedotan
  • Gunakan sedotan “gila”
  • Buat “ poster kemajuan “ ; berikan pujian bila anak mau minum dalam jumlah yang telah ditentukan.

Nafas Dalam

  • Tiup gelembung dengan peniup gelembung
  • Tiup gelembung dengan sedotan (tanpa sabun)
  • Tiup pinwheel, bulu ,peluit, harmonica, balon, terompet mainan, peniup pesta
  • Praktikan instrument band
  • Lakukan kontes meniup dengan menggunakan balon, kapal, bola kapas, bulu, kelereng, bola pingpong, selembar kertas; tiup suatu objek di permukaan meja, air, melalui lubang, ke udara, terhadap penahan, atau ke atas dan ke bawah suatu benang
  • Hisap kertas atau kain dari satu wadah ke awadah lain dengan menggunakan sedotan
  • Gunakan botol tiupan dengan air berwarna untuk memindahkan air dari satu sisi ke sisi lain
  • Cerita drama, seperti “ Saya akan marah dan akan saya tiup rubuh rumah kamu “ dari “ The three little pigs “
  • Lakukan menggambar dengan tiupan sedotan
  • Tarik nafas dalam dan “tiup lilin” pada kue ulang tahun
  • Gunakan kuas kecil untuk “ mengecat” kuku dengan air dan tiup kuku sampai kering

Rentang gerak dan penggunaan ekstremitas

  • Lemparkan kantong kacang pada target yang diam atau dapat bergerak, gulung kertas ke dalam keranjang sampah
  • Sentuh atau tendang balon Mylar yang digantung atau dipegang dalam posisi yang berbeda (bila anak memakai traksi, balaon digantung pada trapeze)
  • Mainkan “ tickle toes “ lakukan sesuai permintaan
  • Mainkan permainan Twister atau “Simon Says”
  • Mainkan permainan pura-pura atau tebak-tebakan, seperti mengikuti seekor burung, kupu-kupu, kuda
  • Lakukan lomba balap sepeda roda tiga atau kursi roda di area yang aman
  • Lakukan permainan menendang dan melempar bola dengan bola busa yang lembut di tempat yang aman
  • Posisikan tempat tidur sehingga anak harus memutar badannya jika ingin melihat televisi atau pintu keluar
  • Memanjat didnding seperti “laba-laba“
  • Objek-objek kecil seperti koin dan kelereng serta sarung tanagn yang seperti karet atau balon tidak aman untuk digunakan anak kecil karena adanya kemungkinan bahaya aspirasi dan sufokasi
  • Berpura-pura mengajarkan dansa “aeorobik” atau latihan ; anjurkan orang tua untuk berpartisipasi
  • Anjurkan unuk berenang, bila mungkin
  • Mainkan video games atau pinball (gerakan motorik halus)
  • Mainkan permainan “ petak-umpet” sembunyikan mainan di mana saja di tempat tidur (atau ruangan, bila anak mampu berambulasi) dan minta anak mencarinya dengan menggunakan tangan atau kaki
  • Berikan tanah liat untuk dimainkan dengan jari
  • Cat atau buat gambar di kertas besar yang diletakkan di lantai atau dinding
  • Anjurkan untuk menyisir rambutnya sendiri : bermain “salon-salonan” dengan “ pelanggan” dalam posisi yang berbeda.

Berendam

  • Bermain dengan mainan atau objek kecil( cangkir, spuit, sabun cuci ) dalam air.
  • Cuci boneka atau mainan
  • Tambahkan gelembung-gelembung pada air mandi bila diijinkan, gerakkan gelembung untuk membuat bentuk atau “monster”
  • Mengambil kelereng, koin dari dasar wadah.
  • buat design dengan koin di dasar wadah
  • berpura – pura untuk membuat perahu atau kapal selam dengan menjaganya agar tetap tercelup.
  • Potong suatu design dalam spon kering atau gunakan kapsul mainan yang dijual yang berisi design dan direndam agr air hangat agar design tersebut menjadi besar ( gunakan kapsul untuk anak di atas usia 3 tahun )
  • Bacakan cerita untuk anak selama berendam, bernyanyilah bersama anak, atau laskukan permainan seperti kartu, checker, atau permainan papan lainnya ( bila kedua tangan direndam, gerakkan potongan papan tersebut untuk anak)
  • Berikan pada anak sesuatu untuk didengar ( music, cerita ) atau dilihat ( viewmasker, buku, dll)
  • Isi sebuah cangkir plastic yang sebagian bawahnya dilubangi, dan buatlah “hujan” dia tas anak tersebut.

Injeksi

  • Biarkan anak memegang spuit, vial, swab alcohol dan berikan injeksi pada boneka atau binatang mainan.
  • Gunakan spuit untuk menggambari kue dengan frosting, cat semprot, atau target tusukan ke dalam wadah.
  • Gmbarkan “lingkaran ajaib” di area injeksi sebelum injeksi dilakukan, gambarkan wajah tersenyum dalm lingkaran setelah injeksi, tetapi hindari menggambar pada sisi yang disuntik.
  • Biarkan anak mempunyai “koleksi” spuit (tanpa jarum), buat objek-objek kreatif yang “liar” dengan spuit-spuit tersebut.
  • Bila dilakuakn injeksi multiple atau pungsi, buatlah “poster kemajuan” , beri pujian atas jumlah injeksi yang sudah ditentukan sebelumnya.
  • Minta anak menghitung sampai 10 atau 15 selama injeksi.

 

Ambulasi

  • Berikan pada anak sesuatu untuk didorong.

Toddler-mainan tarik dorong

Usia sekolah-mendekorasi tiang infuse.

Remaja-seorang bayi di kursi roda atau stroller.

  • Membuat parade membuat topi, drum, dll
  • Memperluas lingkungan ( pasien ditraksi dll )
  • Buat tempat tidur menjadi bentuk kapal atau pesawat dengan dekorasi.
  • Tempatkan cermin agar pasien dapat melihat sekeliling pasien.
  • Gerakkan tempat tidur pasen dengan sering, khususnya ke ruang bermain, koridor atau keluar.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

ASKEP PERILAKU KEKERASAN

1.Pengertian

Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993). Berdasarkan defenisi ini maka perilaku kekerasan dapat dibagi dua menjadi perilaku kekerasan scara verbal dan fisik (Keltner et al, 1995). Sedangkan marah tidak harus memiliki tujuan khusus. Marah lebih menunjuk kepada suatu perangkat perasaan-perasaan tertentu yang biasanya disebut dengan perasaan marah (Berkowitz, 1993)
Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Keliat, 1996)
Ekspresi marah yang segera karena sesuatu penyebab adalah wajar dan hal ini kadang menyulitkan karena secara kultural ekspresi marah tidak diperbolehkan. Oleh karena itu marah sering diekspresikan secara tidak langsung.
Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, hlm 52 tahun 1996 : “Marah adalah pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat”.
Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan konstruktif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya. Untuk itu perawat harus pula mengetahui tentang respons kemarahan sesorang dan fungsi positif marah.

2.Penyebab

Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi.

2.1. Frustasi

sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.

2.2Hilangnya harga diri

pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.

3.3 Kebutuhan akan status dan prestise

Manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif – mal adaptif. Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai berikut : (Keliat, 1997, hal 6).

3.1.Assertif

adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.
3.2.Frustasi

adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan. Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan.
3.3.Pasif

adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami.

3.4.Agresif

merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol oleh individu. Orang agresif biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.
3.5.Mengamuk

adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Pada keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

4.Proses Marah

Stress, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan.
Berikut ini digambarkan proses kemarahan :

(Beck, Rawlins, Williams, 1986, dalam Keliat, 1996, hal

Melihat gambar di atas bahwa respon terhadap marah dapat diungkapkan melalui 3 cara yaitu : Mengungkapkan secara verbal, menekan, dan menantang. Dari ketiga cara ini cara yang pertama adalah konstruktif sedang dua cara yang lain adalah destruktif.
Dengan melarikan diri atau menantang akan menimbulkan rasa bermusuhan, dan bila cara ini dipakai terus menerus, maka kemarahan dapat diekspresikan pada diri sendiri dan lingkungan dan akan tampak sebagai depresi dan psikomatik atau agresif dan ngamuk.

5.Gejala marah

Kemarahan dinyatakan dalam berbagai bentuk, ada yang menimbulkan pengrusakan, tetapi ada juga yang hanya diam seribu bahasa.

5.1Perubahan fisiologik : Tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan meningkat, pupil dilatasi, tonus otot meningkat, mual, frekuensi buang air besar meningkat, kadang-kadang konstipasi, refleks tendon tinggi.
5.2Perubahan emosional : Mudah tersinggung , tidak sabar, frustasi, ekspresi wajah nampak tegang, bila mengamuk kehilangan kontrol diri.
5.3Perubahan perilaku : Agresif pasif, menarik diri, bermusuhan, sinis, curiga, mengamuk, nada suara keras dan kasar.

6.Perilaku

Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
6.1Menyerang atau menghindar (fight of flight)
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom beraksi terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar, sekresi HCl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga meningkat diserta ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.
6.2Menyatakan secara asertif (assertiveness)
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah karena individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis. Di samping itu perilaku ini dapat juga untuk pengembangan diri klien.
6.3Memberontak (acting out)
Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik perhatian orang lain.
6.4Perilaku kekerasan
Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan

7.Mekanisme koping

Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart dan Sundeen, 1998 hal 33).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain : (Maramis, 1998, hal 83)

7.1.Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
7.2.Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
7.3.Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.
7.4.Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
7.5.Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.

Konsep dasar asuhan keperawatan

Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi 4 tahapan yaitu : Pengkajian, perencanaan/intervensi, pelaksanaan/implementasi dan evaluasi, yang masing-masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan keterampilan professional tenaga keperawatan.
Proses keperawatan adalah cara pendekatan sistimatis yang diterapkan dalam pelaksanaan fungsi keperawatan, ide pendekatan yang dimiliki, karakteristik sistimatis, bertujuan, interaksi, dinamis dan ilmiah.
Proses keperawatan klien marah adalah sebagai berikut : (Keliat, dkk, 1996)

1.Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, dan perumusan masalah atau kebutuhan klien atau diagnosa keperawatan.
1.1.Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.
1.1.1.Aspek biologis
Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.
1.1.2.Aspek emosional
Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.
1.1.3.Aspek intelektual
Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.
1.1.4.Aspek sosial
Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang
lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan.
1.1.5.Aspek spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.
Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji individu secara komprehensif meliputi aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual yang secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut :
Aspek fisik terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek dan cepat, berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat. Aspek emosi : tidak adekuat, tidak aman, dendam, jengkel. aspek intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan. aspek sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan, ejekan, humor.
1.2.Klasifiaksi data
Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu data subyektif dan data obyektif. Data subyektif adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini didapatkan melalui wawancara perawat dengan klien dan keluarga. Sedangkan data obyektif yang ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui obsevasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.

1.3.Analisa data
Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat menentukan permasalahan yang dihadapi klien dan dengan memperhatikan pohon masalah dapat diketahui penyebab sampai pada efek dari masalah tersebut. Dari hasil analisa data inilah dapat ditentukan diagnosa keperawatan.

Pohon masalah

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Perilaku kekerasan

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

2.Diagnosa keperawatan

“Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons aktual dan potensial dari individu, keluarga, atau masyarakat terhadap masalah kesehatan sebagai proses kehidupan”. (Carpenito, 1995).
Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan pada klien marah dengan masalah utama perilaku kekerasan adalah sebagai berikut :
2.1Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.
2.2Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah.

3.Rencana tindakan keperawatan/intervensi

Perencanaan tindakan keperawatan adalah merupakan suatu pedoman bagi perawat dalam melakukan intervensi yang tepat.
Pada karya tulis ini akan diuraikan rencana tindakan keperawatan pada diagnosa :
3.1Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan
Tujuan umum : klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan.
Tujuan khusus :
1.Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2.Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
3.Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
4.Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa dilakukan.
5.Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
6.Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemarahan secara konstruktif.
7.Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan.
8.Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.
9.Klien dapat menggunakan obat yang benar.
Tindakan keperawatan :
1.1Bina hubungan saling percaya.
Salam terapeutik, perkenalan diri, beritahu tujuan interaksi, kontrak waktu yang tepat, ciptakan lingkungan yang aman dan tenang, observasi respon verbal dan non verbal, bersikap empati.
Rasional : Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya.
2.1Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya.
Rasional : Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif.

2.2Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal
Rasional : pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir penyelesaian persoalan.
3.1Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel.
Rasional : Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari penyelesaian masalah yang konstruktif pula.
3.2Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien.
Rasional : mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga memudahkan untuk intervensi.
3.3Simpulkan bersama tanda-tanda jengkel / kesan yang dialami klien.
Rasional : memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan.
4.1Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Rasional : memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien.

4.2Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Rasional : mengetahui bagaimana cara klien melakukannya.
4.3Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai.
Rasional : membantu dalam memberikan motivasi untuk menyelesaikan masalahnya.
5.1Bicarakan akibat / kerugian dan perilaku kekerasan yang dilakukan klien.
Rasional : mencari metode koping yang tepat dan konstruktif.
5.2Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan.
Rasional : mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan marah.
6.1Tanyakan pada klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”.
Rasional : menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif.
6.2Berikan pujian jika klien mengetahui cara yang sehat.
Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang positif, meningkatkan harga diri klien.
6.3Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.
a.Secara fisik : tarik nafas dalam / memukul botol / kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
b.Secara verbal : katakan bahwa anda sering jengkel / kesal.
c.Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat, latihan asertif, latihan manajemen perilaku kekerasan.
d.Secara spiritual : anjurkan klien berdua, sembahyang, meminta pada Tuhan agar diberi kesabaran.
Rasional : dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien.
7.1Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien.
Rasional : memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
7.2Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang telah dipilih.
Rasional : mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan.
7.3Bantu klien untuk menstimulasikan cara tersebut.
Rasional : mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat.

7.4Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
7.5Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel / marah.
Rasional : mengetahui kemajuan klien selama diintervensi.
8.1Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini.
Rasional : memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada klien.
8.2Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
Rasional : menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan dalam perubahan perilaku klien.
8.3Jelaskan cara-cara merawat klien.
Terkait dengan cara mengontrol perilaku kekerasan secara konstruktif.
Sikap tenang, bicara tenang dan jelas.
Bantu keluarga mengenal penyebab marah.
Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarga dalam merawat klien secara bersama.

8.4Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien.
Rasional : mengetahui sejauh mana keluarga menggunakan cara yang dianjurkan.
8.5Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi.
Rasional : mengetahui respon keluarga dalam merawat klien.
9.1Jelaskan pada klien dan keluarga jenis-jenis obat yang diminum klien seperti : CPZ, haloperidol, Artame.
Rasional : menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang obat dan fungsinya.
9.2Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.
Rasional : memberikan informasi pentingnya minum obat dalam mempercepat penyembuhan.

3.2Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah
Tujuan umum : klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain :
Tujuan khusus :
1.Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2.Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki.
3.Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
4.Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
5.Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
6.Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

Tindakan keperawatan :
1.1Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
Rasional : hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya.
2.1Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
Rasional : mengidentifikasi hal-hal positif yang masih dimiliki klien.
2.2Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif.
Rasional : pemberian penilaian negatif dapat menurunkan semangat klien dalam hidupnya.

2.3Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
3.1Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan.
Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat digunakan.
3.2Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya di rumah sakit.
Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat dilanjutkan.
3.3Berikan pujian.
Rasional : meningkatkan harga diri dan merasa diperhatikan.
4.1Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit.
Rasional : agar klien dapat melakukan kegiatan yang realistis sesuai kemampuan yang dimiliki.
4.2Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh.
Rasional : menuntun klien dalam melakukan kegiatan.
4.3Beri pujian atas keberhasilan klien.
Rasional : meningkatkan motivasi untuk berbuat lebih baik.

4.4Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih.
Rasional : mengidentifikasi klien agar berlatih secara teratur.
5.1Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
Rasional : tujuan utama dalam penghayatan pasien adalah membuatnya menggunakan respon koping mal adaptif dengan yang lebih adaptif.
5.2Beri pujian atas keberhasilan klien.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
5.3Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah.
Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.
6.1Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarg a dalam merawat klien secara bersama.
6.2Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
Rasional : meningkatkan peran serta keluarga dalam membantu klien meningkatkan harga diri rendah.

6.3Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
Rasional : memotivasi keluarga untuk merawat klien.

Leave a comment

Filed under Askep

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

A. Pengertian

Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.

Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa ditemukan 85% pasien dengan kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus tersebut dengan pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

B. Klasifikasi

Klasifikasi halusinasi sebagai berikut :

  1. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya.
  2. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada.
  3. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya.
  4. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya.
  5. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.

C. Etiologi

Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.

D. Psikopatologi

Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi.
Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna.

E. Tanda dan Gejala

Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan).


F. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :

  1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
    Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan.
    Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.
  2. Melaksanakan program terapi dokter
    Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
  3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada
    Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.
  4. Memberi aktivitas pada pasien
    Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
  5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
    Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Halusinasi

A. Pengkajian
Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu :

  1. Faktor predisposisi.
    Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari pasien maupun keluarganya, mengenai factor perkembangan sosial kultural, biokimia, psikologis dan genetik yaitu factor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.

    • Faktor Perkembangan
      Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan kecemasan.
    • Faktor Sosiokultural
      Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien di besarkan.
      Faktor Biokimia
      Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP).
    • Faktor Psikologis
      Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas.
    • Faktor genetik
      Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
  2. Faktor Presipitasi
    Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman / tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan juga suasana sepi / isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.
  3. Perilaku
    Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari dimensi yaitu :

    • Dimensi Fisik
      Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.
    • Dimensi Emosional
      Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
    • Dimensi Intelektual
      Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien.
    • Dimensi Sosial
      Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem control oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.
    • Dimensi Spiritual
      Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi, individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya.
  4. Sumber Koping
    Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.
  5. Mekanisme Koping
    Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri.

B. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul

  1. Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi.
  2. Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
  3. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

C. Intervensi

Diagnoasa 1.:
Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi
Tujuan : Tidak terjadi perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain.
Kriteria Hasil :

  1. Pasien dapat mengungkapkan perasaannya dalam keadaan saat ini secara verbal.
  2. Pasien dapat menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan saat halusinasi, cara memutuskan halusinasi dan melaksanakan cara yang efektif bagi pasien untuk digunakan
  3. Pasien dapat menggunakan keluarga pasien untuk mengontrol halusinasi dengan cara sering berinteraksi dengan keluarga.

Intervensi :

  • Bina Hubungan saling percaya
  • Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.
  • Dengarkan ungkapan klien dengan empati
  • Adakan kontak secara singkat tetapi sering secara bertahap (waktu disesuaikan dengan kondisi klien).
  • Observasi tingkah laku : verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi.
  • Jelaskan pada klien tanda-tanda halusinasi dengan menggambarkan tingkah laku halusinasi.
  • Identifikasi bersama klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi, isi, waktu, frekuensi.
  • Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya saat alami halusinasi.
  • Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan bila sedang mengalami halusinasi.
  • Diskusikan cara-cara memutuskan halusinasi
  • Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan cara memutuskan halusinasi yang sesuai dengan klien.
  • Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok
  • Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga ketika mengalami halusinasi.
  • Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat untuk mengontrol halusinasi.
  • Bantu klien menggunakan obat secara benar.

Diagnosa 2.:
Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
Tujuan : Klien mampu mengontrol halusinasinya
Kriteria Hasil :

  1. Pasien dapat dan mau berjabat tangan.
  2. Pasien mau menyebutkan nama, mau memanggil nama perawat dan mau duduk bersama.
  3. Pasien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri.
  4. Pasien mau berhubungan dengan orang lain.
  5. Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat berhubungan secara bertahap dengan keluarga

Intervensi :

  • Bina hubungan saling percaya.
  • Buat kontrak dengan klien.
  • Lakukan perkenalan.
  • Panggil nama kesukaan.
  • Ajak pasien bercakap-cakap dengan ramah.
  • Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
    serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab pasien tidak mau bergaul/menarik diri.
  • Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta yang mungkin jadi penyebab.
  • Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan.
  • Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan.
  • Perlahan-lahan serta pasien dalam kegiatan ruangan dengan melalui tahap-tahap yang ditentukan.
  • Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai.
  • Anjurkan pasien mengevaluasi secara mandiri manfaat dari berhubungan.
  • Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan pasien mengisi waktunya.
  • Motivasi pasien dalam mengikuti aktivitas ruangan.
  • Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan ruangan.
  • Lakukan kungjungan rumah, bina hubungan saling percaya dengan keluarga.
  • Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebab dan car a keluarga menghadapi.
  • Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi.
  • Anjurkan anggota keluarga pasien secara rutin menengok pasien minimal sekali seminggu.

Diagnosa 3.:
Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
Tujuan : Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
Kriteria Hasil :

  1. Pasien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan
  2. Pasien dapat menyebutkan efektifitas koping yang dipergunakan
  3. Pasien mampu memulai mengevaluasi diri
  4. pasien mampu membuat perencanaan yang realistik sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya
  5. Pasien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencanan
    Intervensi :

    • Dorong pasien untuk menyebutkan aspek positip yang ada pada dirinya dari segi fisik.
    • Diskusikan dengan pasien tentang harapan-harapannya.
    • Diskusikan dengan pasien keterampilannya yang menonjol selama di rumah dan di rumah sakit.
    • Berikan pujian.
    • Identifikasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pasien
    • Diskusikan koping yang biasa digunakan oleh pasien.
    • Diskusikan strategi koping yang efektif bagi pasien.
    • Bersama pasien identifikasi stressor dan bagaimana penialian pasien terhadap stressor.
    • Jelaskan bahwa keyakinan pasien terhadap stressor mempengaruhi pikiran dan perilakunya.
    • Bersama pasien identifikasi keyakinan ilustrasikan tujuan yang tidak realistic.
    • Bersama pasien identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimiliki
    • Tunjukkan konsep sukses dan gagal dengan persepsi yang cocok.
    • Diskusikan koping adaptif dan maladaptif.
    • Diskusikan kerugian dan akibat respon koping yang maladaptive.
    • Bantu pasien untuk mengerti bahwa hanya pasien yang dapat merubah dirinya bukan orang lain
    • Dorong pasien untuk merumuskan perencanaan/tujuannya sendiri (bukan perawat).
    • Diskusikan konsekuensi dan realitas dari perencanaan / tujuannya.
    • Bantu pasien untuk menetpkan secara jelas perubahan yang diharapkan.
    • Dorong pasien untuk memulai pengalaman baru untuk berkembang sesuai potensi yang ada pada dirinya.

Leave a comment

Filed under Askep

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Comment

Filed under Uncategorized